Rabu, 16 November 2011

Pelampiasan kemarahan, pentingkah??

Selamat pagi, hmm mungkin itu saja yang bisa saya sapakan untuk semua. Pagi ini suasana hati saya sedang tidak secerah pagi-pagi kemarin, tadi sebelum berangkat ke kantor sedikit ribut sama orang rumah. Bukan sam suami saya loh?? Saya masih numpang tinggal dengan ibu saya, jadi maklumlah bila sedikit-sedikit terjadi keributan.
Susah rasanya menggambarkan emosi yang tengah meluap, susah lagi hidup masih menumpang seperti saya. Pengen sih punya rumah sendiri, tapi dananya masih belum ada. Mau ngingetin dikit, di bilang marah-marah, mau nggak di penjemin barang ntar di bilang pelit. Huh, menyebalkan!!
Apalagi kalau sudah mulai adu mulut, olala bisa-bisa rumah saya jadi kapal pecah. Secara saya orangnya nggak mau kalah dari kecil, kesel dikit bisa mukul apapun yang ada di depan saya.
Pernah dulu pas masih sekolah, saya jengkel karena terlalu di atur ibu. Ibu marahin saya nggak terima saya marah, adu mulut, dan akhirnya saya ngalah terus masuk kamar dan teriak sekencengnya.
Mau di bilang gila kek ma tetangga, saya nggak peduli. Saya sudah kadung kesel, dan saya pikir untuk meluapkan segalanya berteriak adalah solusi. Naif sekali :p
Saat saya sudah mulai bekerja, kembali saya bertengkar dengan ibu. Maklumlah dari kecil saya deketnya sama si mbah, jadi lebih banyak ribut sama ibu. Saya nggak pernah cocok dengan ibu.
Kami bertengkar kembali, dan saya lebih milih masuk kamar dari pada menjadi anak durhaka yang balik mengomelinya. Dan kali ini saya tidak teriak saudara, tapi memukul kaca di kamar sampai pecah.
Tangan saya sampai berdarah-darah, rasanya sakit sih. Tapi sebodoh amat, yang namanya jengkel tetep saja jengkel, kalau belum di lampiaskan bakal ganjel di hati.
Ya saudara setanah air, begitulah saya beberapa tahun lalu belum bisa mengontrol emosi.
Apa saya menakutkan?? Tentu tidak, bahkan saya pernah lebih nekat lagi. Hehheee
Nah marah itu sendiri adalah rasa sangat tidak senang (karena dihina, diperlakukan tidak sepantasnya, dsb), berang, gusar. Itu menurut KBBI,  marah itu juga bisa di sebabkan banyak hal.
Contoh sepele, tidak mematuhi aturan dan akhirnya kena marah, ribut sama pacar dll. Cari contoh sendiri saja ya, saya yakit kita semua pasti pernah marah.
Kalau sudah marah tentunya selalu ada yang namanya pelampiasan kemaraha, betul sekali kebanyakan orang merasa marah tanpa pelampiasan bak nasi pecel tanpa tempe. :)
Pelampiasan marah ini bisa macem-macem, ini nih labih panjangnya ya
  • Nangis, yup yang paling save dari pelampiasan kemarahan yang pertama adalah ini. Nangis dan di sertai pengurungan diri di dalam kamar. Untuk beberapa saat menenangkan diri, setelah puas nangis pasti bakal baikan seperti biasa lagi.
  • Teriak, nah saudara teriak ini merupakan luapan kekesalan. Dn banyak juga yang berteriak buat menghilangkan beban di dada, yang paling banyak di pilem-pilem itu berteriak di pantai atau di lapangan.
  • Memaki. Memaki adalah mengeluarkan kata-kata kotor ketika marah, beberapa orang memaki ketika marah bisa melampiaskan kakesalannya. Memaki=misuh.
  • Membanting benda di sekitarnya, hia ini yang bisa bikin jadi kere. Lhah gimana nggak coba?? Pas marah, tipe orang dengan pelampiasan kekesalan ini bisa main lampar apa saja yang ada di depan dia. Kalau pas marah di rumah dia sendiri, lha kalau pas main di rumah kita dia lagi marah bisa-bisa barang-barang kita hancur mina.
  • Mukul. Kebiasaan saya kalau kesel mukul tembok, yah biar marahnya nyalur ke tembok gitu makasudnya. Hahaha, nggak lah biar plong aja. Biar tangan saya sakit tapi sedikit pamer kalau saya jago mukul tembok huhu :p
  • Menyakiti diri sendiri. Nah ini yang sedikit bikin ngeri. Bnyak kasus yang saya temui adalah menyayat tangannya. Eh tapi bukan nadi ya?? Paling tangan doang kok, rasanya sih perih-perih gitu dan pasti berdara-darah juga. Seperti emo gitulah, tapi yang ini lebih ke pelampiasan kemarahan.
Usia kita makin bertambah, makin pula kita akan mengerti bagaimana cara yang ampuh meredam emosi. Kedewasaan kita, kehardiran si kecil, kemudian faktor-faktor yang lain akan menjadi pembantu kita dalam menyelesaikan masalah yang ada dan bukan hanya bisa melampiaskan. Pelampisan kemarahan itu wajar-wajar saja, toh juga tidak ada larangan dalam melampiaskan kemarahan itu sendiri.
Namun lebih baik bila berupa hal-hal positif, misalnya menulis. Mencurahkan isi hati yang galau ke dalam tulisan sah saja. Bukan untuk di publikasikan, namun untuk milik pribadi, cermin diri serta tolak ukur seberapa dewasanya kita.



sumber:
Gambar dari google


    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar