Siang ini begitu panas, ku seruput es teh dalam kantong plastik yang sedari tadi aku genggam pangkalnya di tangan kiriku. Udara dikota kecil tempat tinggal nenekku ini memang terkenal panas, banyak tanah tandus disini. Namaku Viona, aku dari kota sengaja liburan dikota kecil tempat tinggal nenekku. Dulu aku sering sekali berkunjung dirumah nenek, saat lebaran atau juga saat liburan. Kali ini aku datang sendiri, ayah dan ibu tengah sibuk dengan pekerjaan mereka. Aku menghela nafas panjang, sedikit menghilangkan bosan karena sedari tadi manunggu pamanku datang menjemput. Setengah kesal, tapi hilang begitu aku menemukan sosok pamanku di antara kerumunan orang.
"Viona.."
"Kurang lama paman.."
Jawabku sedikit menggerutu.
"Tadi ada masalah sedikit dirumah"
"Masalah apa??"
"Sudah ayo cepat naik."
Aku segera naik motor paman. Disepanjang jalan menuju rumah nenek begitu indah, bukit-bukit yang terlihat menyembul. Kontras dengan udaranya yang panas.
Sepuluh menit berlalu, akhirnya sampai juga dirumah nenek. Nenek sudah menunggu didepan rumah, aku berjalan menghampirinya. Kemudian aku berselaman dan mencuim tangannya.
"Bagaimana perjalanannya??"
"Baik nek, tidak ada masalah."
"Baguslah.."
Aku tersenyum dan nenek mempersilahkan aku masuk menuju kamar yang telah di siapkan untukku. Kamar berukuran tak begitu besar dengan tempat tidur kecil, di sampingnya terdapat meja dan ada pula sebuah lemari untuk tempat pakaian. Aku keluarkan pakaianku dari dalam tas dan aku susun rapi di lemari tersebut. Aku membawa cukup banyak pakaian karena aku akan berada lumayan lama dirumah nenek.
"Nek, ayah sama ibu nggak bisa ikut. Soalnya lagi sibuk sama pekerjaan, jadi cuma Vio yang datang."
"Iya tidak apa-apa, nenek senang Vio mau datang berkunjung dirumah nenek. Sudah dua bulan ini nenek tinggal sendiri."
Aku sedikit kaget mendengar kata-kata nenek barusan, sehari-hari nenek tinggal dengan pamanku dan istrinya serta Bayu sepupuku yang masih berusia dua tahun. Aku baru ingat sedari tadi aku tak melitah Bibi Santi, suami pamanku yang paling kecil dan Bayu.
"Memang bibi Santi, paman Luky sama bayu kemana nek??"
"Begini Vio, sudah beberapa bulan ini di kampung sekitar ini ada teror perempuan setengah siluman."
Baru mendengar jawaban nenek aku sudah bergidik ngeri, perempuan setengah siluman. Apa lagi itu?? Didesa tempat tinggal nenek yang masih terbilang terpencil memang sering beredar berita-berita mistios macam itu. Hatiku sedikit takut, apa aku pulang saja?? Kepalang tanggung, sudah jauh-jauh kesini masa hanya gara-gara perempuan itu aku harus balik pulang?? Itu perempuan setengah siluman tidak boleh mengganggu liburanku. Dengan sedikit gaya pemberani aku meledek nenek.
"Ih, nenek jaman moderen kek begini masa iya ada permpuan setengah siluman?? Ngaco deh.."
"Hust.., jangan ngomong begitu. Memang benar ada Vio. Makanya Luky beserta anak istrinya untuk semantara tinggal dirumah mertuanya Di kendal samapi teror itu berhenti menyerang desa-desa yang ada disini."
"Emang awal teror itu gimana sih nek??"
Tanyaku penasaran. Sebenarnya takut juga sih.
"Awalnya muncul di desa A, didesa A ada orang kaya bernama pak Karto. Pak Karto itu sawahnya banyak, rumahnya besar dan memiliki dua orang istri. Pas suatu malam pak Karto sepulang dari rumah istri mudanya ditengah jalan bertemu dengan seorang perempuan. Perempuan muda dan cantik, umurnya sekitar 18 tahunan. Disitulah awal mula teror itu terjadi, perempuan itu di ajak berkenalan pak Karto. Mereka ngobrol ngalor ngidul sampai akhirnya si perempuan itu di antar pulang. Setelah mengantar pulang, pak Karto seperti tersihir, setiap hari selalu menghampiri perempuan itu dirumahnya. Semua yang perempuan itu inginkan selalu di turuti bahkan sampai pak Karto lupa anak istrinya. Sampai suatu ketika pak Karto ingin memperistrinya, namun perempuan itu menolak."
"Loh, bukannya enak kalau jadi istrinya?? Berkecukupan, nggak dosa lagi nek."
"Itulah Vio, perempuan itu setengah siluman. Dia hanya mengeruk Harta pak Karto saja. Selain itu ketika tak sengaja salah seorang tetangga pak Karto melihat pak Karto tengah asik berhubungan dengan perempuan itu di dlam mobilnya, si perempuan itu ternyata menyedot darah pak Karto. Makin hari wajah pak Karto mekin pucat dan kurus kering, dengan selalu ditemukannya lubang bekas gigitan di lehernya. Selain itu hartanya juga makin habis. Anak istrinya ditelantarkan. Sampai suatu hari pak Karto ditemukan meninggal didalam mobilnya dengan kondisi mengenaskan. Tubuh yang hanya tinggal tulang berbalut kulit, banyak bekas gigitan dibadannya, selain itu matanya juga melotot seperti melihat sesuatu yang menakutkan."
Aku terdiam tak mengeluarkan kata-kata mendengar cerita nenek, sedikit takut juga mendengar ceritanya. Tidak kebayang bila aku bertemu dengan perempuan itu.
"Tapi kamu tidak perlu takut, karena perempuan itu hanya mengejar laki-laki."
***
Pagi ini aku terbangun dengan kesal, gara-gara cerita nenek kemarin aku jadi tak bisa tidur. Membayangkan perempuan itu bikin bergidik ngeri. Kalau aku ketemu dia, ih nggak bisa bayangin aku.
"Vio, ayo mandi dulu terus sarapan. Ini nenek sudah masak mie goreng buat kamu."
Tanpa menjawab aku beranjak ke kamar mandi. Selesai mandi aku sarapan bareng nenek, sepi sekali biasanya aba bibi Santi dan Bayu jam segini.
"Hey, Vio."
"Lho, Arum. Katanya kamu kerja diJakarta??"
Arum ini adalah anak dari Pak Rusli tetangga nenek, dia seusia denganku.
Rencananya dia akan bekerja diJakarta tapi ternyata di larang sma
ibunya. Setiap aku kerumah nenek dia ini yang selalu main denganku.
"Enggak, aku tidak di perbolehkan ibuk. Takut kalau aku kenapa-kenapa Vio. Kamu kapan datang??"
"Kemarin, ayo makan.Eh Arum, kamu dengar soal teror perempuan setengah siluman??"
"Kamu tahu dari nenek ya??"
"Iya, ih aku ngeri Rum."
"Sama Vio, kalau habis magrib tidak ada warga yang berani keluar rumah. Kamu tahu teror yang terakhir kudengar, pak Maman ayahnya Minah kemarin baru saja bersimpangan dengan perempuan itu."
"Bagaiman bisa tahu kalau itu perempuan siluman yang dimaksud??"
"Ya jelas tahu, soalnya perempuan itu berparas ayu, berbadan seksi wajahnya masih terlihat muda. Dan dia selalu memakai kain berwarna ungu."
"Apa lagi itu?? Jangan-jangan nenek yang memakai kebaya ungu kamu kira perempuan itu lagi."
"Hhahahahaha, dasar Vio masa iya nenek bisa menggoda laki-laki di umurnya yang udah segitu."
"hahahaha..."
***
Malam ini aku dan Arum sengaja keluar selepas magrib memang karena kami ingin melihat secara langsung perempuan tersebut. Sebelumnya aku dan Arum sudah terlebih dahulu kerumah Ustat Zakaria untuk menanyakan tentang perempuan itu. Ustat Zakaria menjelaskan kalau perempuan itu sudah lama berkeliaran dikampung nenekku ini, namun baru kemarin ada yang memergokinya. Ustat sediri sering memergokinya sedang bersama salah seorang warga kaya dikampung ini yang namanya sengaja tidak disebutkan ustat. Perempuan itu hanya mengejar laki-laki, namun kaum perempuanpun harus hati-hati karena perempuan itu bisa melakukan apa saja yang ia mau bila keinginannya di halangi.
Aku dan Arum bersembunyi di balik poskampling di perempatan dekat sekolah mengaji menunggu perempuan itu lewat. Sudah hampir dua jam kami menunggu tapi yang ditunggu tidak lewat juga. Mana nyamuk disini banyak lagi.
"Rum, balik aja yuk.. Lewat enggak jadi donor darah iya disini."
"Bentar Vio, kata Pak Maman itu perempuan lewatnya jam 9an. Tinggak 10 menit ini."
Selang lima menitan si Arum mulai ngomong yang enggak-enggak, ini anak jangan-jangan kesurupan.
"Rum, kamu kenapa??"
"Hustttt, diem Vio bentar lagi lewat."
Aku menelan ludah sedikit takut, aku jongkok dibelakang Arum. Si Arum ini memang sedikit mengerti soal begituan, lumayanlah ilmunya kata Ustat Zakaria.Makanya aku nggak takut di ajakin keteum sama itu perempuan siluman. Selang beberapa detik saja tiba-tiba tercuim aroma harus bunga melati. Aku makin merinding.
"Rum, bau melati nyesek dihidung."
"Bau busuk gini kamu bilang bau melati Vio."
"Ini bener bau melati Rum, hidung kamu tuh bermasalah."
Arum hanya diam dan menyuruhku memperhatikan dengan seksama ke arah jalan dari timur.
Benar saja, dari arah tidur tengah berjalan dua orang laki-laki dan perempuan yang tengah asik bercanda. Laki-laki itu Pak Sobirin, mandor sekalihus pemilik perkebunan tebu utara kampung nenekku. Kemudian si perempuan itu wajahnya keriput. Giginya hitam, dan yang lebih menyeramkan lagi rambutnya berupa ular keci-kecil dan banyak jumlahnya. Seperti medusa. Bau melati tadi berubah menjadi bau busuk bangkai, huekk pengen muntah rasanya kalau tidak si Arum segera menutup mulutku agar tak berisik. Dan yang aneh si pak Sobirin sama sekali tak menyadarinya.
Perempuan siluman itu dan pak Sobirin berjalan menuju gang kecil menuju ke kali. Arum menarik tanganku dan mengajak mengikuti mereka. Aku menolak, tapi Arum memaksa. Jadilah aku ikut. Sampai di pinggir kali, aku dan Arum melihat pemandangan yang tak mengenakkan. Perempuan itu menyeringai menunjukkan taringnya kemudian menggigit leher pak Sobirin. Dalam hitungan detik saja tubuh pak Sobirin menjadi kurus tinggal tulang saja. Seperti terserap energinya oleh perempuan siluman saja. Dan seketika saja perempuan berubah menjadi cantik, muda dan seger. Rambutnya hitam lurus bak di ribonding, badannya seksi. Dan pak Sobirin sudah lemas kehabisan darah.
Tiba-tiba saja dia menengok ke arahku dan Arum, dia menyadari kedatangan kami. Perempuan itu mengerang kembali menunjukkan taringnya. Tanpa banyak kata aku dan Arum mengambil langkah seribu. Kami lari sekencang-kencangnya hingga tak tersa sudah sampai pos ronda. Dengan nafas terengah-engah aku menyandarkan punggung di pos itu, begitu juga Arum. Pamanku dan warga kampung yang lain terheran-heran melihatku dan Arum.
"Vio, Arum.. Dari mana kalian malam-malam begini??"
"Itu paman, habis di kejar perempuan setengah siluman. Wajahnya cantik dan bertaring. Ngeri, dia habis bunuh pak Sobirin di pinggir kali sana"
"Ha, benar itu Arum??"
"Iya paman."
Aku, Arum dan warga desa segera menuju kali yang kami maksud. Dan benar saja
mereka menemukan pak Sobirin yang ternyata belum meninggal, badannya tinggal
tulang, dengan bekas gigitan di lehernya.
Pagi harinya dikampung heboh rumah pak Sobirin hilang tak berbekas beserta isinya, anak istrinya ketika bangun sudah berada dilapangan bola barat kelurahan. Pak Sobirin sendiri tadi malam telah di larikan kerumah sakit karena kondisinya sangat lemah.
***
"Vio, kamu pulang saja ke kota. Nenek takut terjadi apa-apa dengan kamu setelah bertemu dengan perempuan siluman itu."
"Nenek, Vio bakal baik-baik saja. Kata nenek kalau kita rajin berdoan sama Allah setan tidak akan mengganggu."
"Tapi nenek takut Vio, perempuan itu sudah terlanjur menaruh dendam gara-gara kamu pergoki dengan Arum."
"Nenek tidak perlu kuatir, Vio sedikit takut tapi kata pak Ustat Zakaria kita hanya boleh takut sama Allah."
Akhirnya nenek menyerah membujukku pulang. Aku dan Arum punya niat untuk mengakhiri teror ini. Nenek hanya berpesan bila aku sedang keluar bersama Arum harus berhati-hati.
Aku menuju rumah Arum dan mengajaknya beli es di warung dekat SD.
Tengah asik berbincang-bincang tiba-tiba ada seorang bapak dengan pakaian lusuh datang menanyakan sesuatu.
"Permisi mbak, apa didesa ini sedang dilanda teror perempuan siluman??"
"Iya pak, sudah dua bulan lebih teror itu melanda desa ini. Kemarin baru saja ada yang meninggal."
"Kalau boleh tahu perempuannya seperti apa??"
"Ini, tanya saja sama mbak-mbak ini yang kemarin ngerti langsung wajah perempuan itu."
Bapak itu duduk di samping Arum setelah mbak Rahma menyuruhnya bertanya pada kami yang mengerti bagaimana wajah perempuan itu. Tanpa di komando aku dan Arum mengajak bapak tadi ke rumah Ustat Zakaria yang lebih akan paham masalah ini. Sesampainya dirumah Ustat Zakaria kami menjelaskan maksud kami.
"Maaf mbak, apa kalian mengenal atau pernah bertemu perempuan ini??"
Tanya bapak itu sambil menyodorkan sebuah foto. Di foto itu terlihat seorang perempuan berparas cantik beramput panjang persis yang aku temui dengan Arum. Namun tidak bertaring, dia terlihat cantik namun tatapan matanya terlihat sendu dalam foto itu.
"Ini perempuan itu. Iya kan Rum??"
"Iya, ini perempuan itu, dan bapak ini siapa ko punya foto perempuan itu??"
"Saya Parmin, itu anak saya Ratih."
Aku dan Arum kaget begitu juga dengan Ustat Zakaria. Ustat Zakaria menanyakan bagaimana awal mula kejadian hingga bisa menebar teror yang meresakhan warga. Ternyata awalnya si Ratih merupakan gadis lulusan SMA yang bekerja disebuah toko Onderdil motor, dia di sukai bosnya sendiri. Karena Ratih juga dari keluarga yang kekurangan akhirnnya dia menjalin hubungan gelap dengan bosnya itu agar bisa hidup lebih baik. Suatu ketika hubungan mereka di ketahui oleh istri bos, Ratih di siksa dengan anak buahnya hingga keguguran. Ketika itu Ratih tengah hamil 5 bulan, sempat nyaris kehilangan nyawa akhirnya Ratih bertahan dan mengambil jalan sesat yaitu berguru pada seorang dukun agar bisa membalas dendam pada bos dan istrinya tersebut. Bapaknya sempat melarang namun tak di gubris oleh Ratih dan malah kabur dari rumah. Di tengah masa bergurunya itu tindakannya belajar ilmu sesat diketahui warga dan akhirnya gurunya di bakar hidup-hidup dan Ratih di asingkan. Dalam pengasingannya itu dia terus belajar ilmu sesat, sampai suatu hari Ratih tida ditemukan di gubuk pengasingannya. Semua orang berpendapat Ratih telah meninggal di makan binatang buas, dan peristiwa itu akhirnya terlupakan. Sampai suatu saat teror perempuan setengah siluman yang sukanya menghisap darah lelaki setalah menguras habis hartanya.Ya, itulah Ratih.
***
Malam ini aku, Arum, Bapaknya Ratih, pak Ustat Zakaria dan warga desa telah berkumpul di depan kelurahan. Malam ini semua yang ada di sini memiliki misa untuk meringkus perempuan siluman itu.
Aku dan Arum yang di gunakan sebagai umpan, karena Ustat Zakaria yakin perempuan itu dendam pada aku dan Arum karena memergokinya membunuh pak Sobirin.
Aku dan Arum berjalan mengitari desa, sementara banyak warga yang bersembunyi di setiap sudut desa.
Lama juga kami berdua muter-muter, sudah hampir jam sepuluh namun belum ada tanda-tanda parempuan itu muncul. Hampir saja kami semua sepakat pulang, namun tiba-tiba menyeruak tercium wangi bunga melati.
Aku dan Arum saling berpandangan, dari arah kiri Arum melihat sosok Ratih berjalan mendekat, namun aku tak melihatnya. Setetika Arum berdiri di depanku menghadang perempuan itu agar tak melukaiku. Tapi Arum salah, sekejap saja tiba-tiba berdiri Ratih di hadapanku. Ratih mengulurka tangannya mencoba mencekikku, aku melawan namun percuma kekuatanku kalah besar. Dia berhasil mencekikku, Arum mencoba melepaskannya tapi percuma. Aku hampir kehabisan nafas kalau Ustat Zakaria tidak segera menolong dengan mengibaskan sarung dan mengucapkan asma Allah. Ratih terpental jatuh namun berdiri lagi dan menyeringai menunjukkan taringnya.
"Siapa kamu?? Aku ingin membunuh dua anak ini, aku dendam kepada mereka karena aku gagal membunuh mangsaku."
Ratih berbicara dengan mata melotot, Ustat Zakaria membacakan doa dan seketika dia berteriak kepanasan. Di tengah terikannya di menyerang Ustat, namun dengan sigap Ustat kembali mengibaskan sarunga tepat mengenai wajah Ratih dan membuatnya terpenjal jauh.
Dalam hitungan detik Ratih sudah berdiri di hadapan Ustat dengan wajah aslinya, muka keriput gigi yang berwarna hitam serta berambut medusa.
"Ratih, ini bapak. Bertobatlah Ratih, bapak tidak ingin kamu sengsara nantinya."
Ratih menoleh ke arah suara itu, tatapan matanya terlihat murka.
Tiba-tiba saja dia sudah berada di hadapan bapaknya.
"Semua ini gara-gara kua, kalau saja kau tidakmiskin aku tidak akan jadi begini!!"
"Ini memang salah bapak Ratih, sekarang apa maumu??Bertobatlah kamu telah banyak membunuh Ratih"
"Tidak bisa, aku ingin membunuh semua orang yang dengan seenaknya mempermainkan wanita miskin sepertiku. Aku akan mengambil harta mereka dan menghisap darah mereka sampai mati."
" Baiklah, kalau begitu aku sendiri yang akan memusnahkanmu."
Bapak Ratih mengeluarkan sebutir telur ayam kampung dan melemparkannya ke arah Ratih, dalam hitungan detik Ratih mengerang kesakitan. Semua warga bersiaga takut kalau Ratih menyerang dengan membabi buta. Namun perkiraan warga salah, Ratih melemah. Tiba-tiba rambut medusanya berubah menjadi rambut asli, taringnya menghilang, giginya juga kembali ke warna asli. Namun wajahnya tetap keriput dan muncul banyak borok di tubuhnya. Naudzubillah.
Dari erangannya berubah menjadi tangisan.
"Ratih anakku."
"Bapak tolong, ilmu hitam ini menguasaiku. Aku jadi ingin membunuh terus, aku mencoba menghentikan namun tak bisa."
Ucap Ratih dengan nada putus asa. Bapaknya kelihatan kebinggungan. Kemudian pak Ustat Zakaria menyarankan untuk rukiyah, siapa tahu akan bisa di sembuhkan.
Dan malam itu juga di adakan rukiyah di lapangan bola samping kelurahan, di saksiakan banyak warga Ustat kesulitan sekali mengusir ilmu jahat yang ada dalam tubuh Ratih.
"Bapak, ilmu sesat yang di anut Ratih sudah mendarah daging jadi sangat sulit untuk di musnahkan."
"Jadi bagaiman solusinya Ustat??"
"Saya sudah memanggil teman-teman sepondokan saya dulu untuk mencoba merukiyah bersama pak, dan semoga saja bisa di bersihkan."
Malam itu warga bubar jam 2 pagi, aku dan Arum bergegas pulang. Besok teman-teman sepondokan Ustat Zakaria akan datang ke desa ini untuk merukiyah Ratih. Malam ini Ratih di amankan di masjid dan di jaga sendiri oleh Ustat dan beberapa warga desa.
***
Siang ini semua warga berkumpul di pelatarn masjid. Ustat Zakatia dan teman-temannya bersiap merukiyah Ratih. Semua warga yang hadir di harap tidak melamun dan tidak perpikiran kosong karena tidak baik.
Dan rukiyah dimulai, Ratih menjerit kesakitan. Ustat dan teman-temannya mengalami banyak serangan, bahkan sampai ada yang terjatuh. Rukiyah yang pertama begitu menengangkan, ternyata ilmu sesat yang di pelajari Ratih bukan cuma satu macam tapi tiga sekaligus. Rukiyah yang pertaman berhasil di teruskan yang kedua dan ketiga. Pukul tiga sore barulah selesai semuanya.
Sore itu juga Ratih dan ayahnya pamit sekaligus meminta maaf terhadap warga desa terutama keluarga pak Sobirin. Semua harta pak Sobirin di kembalikan yang ternyata di simpan di sebuah gubuk reot di tengah hutan. Sebelum pergi Ratih menyalamiku dan meminta maaf sudah mencekikku saat itu, wajahnya masih keriput tak kembali ke aslinya begitu juga tubuhnya yang di penuhi dengan koreng. Mungkin itulah akibat yang harus dia terima atas semua yang dia lakukan. Untung-untung bukan nyawa dia yang menjadi gantinya.
Seleasi sudah teror perempuan setengah siluman yang selama ini menghantui desa di sini. Dan selsai juga liburanku di rumah nenek, besok aku kembali ke kota dengan membawa sebuah kisah yang bagus. Tentunya juga sebuah pelajaran berarti bahwa apa yang kita lakukan harus di pikirkan baik-baik jangan hanya mengikuti bisikan setan yang belakangan mencelakai diri sendiri dan orang lain.
***