Perempuan simpanan, aku menyebutnya seperti itu. Dia perempuan namun bukan perawan. Wajahnya cantik, memiliki tubuh yang sebenarnya tidak terlalu menarik. Nikita Mirzani jauh lebih seksi dan jauh lebih bitch dibanding perempuan itu. Tampangnya sama sekali tak menunjukan bahwa dia seorang "perempuan simpanan". Namanya Anggun, wajah dan perawakannya memang sesuai dengan namanya. Tapi tidak dengan kelakuannya. Dia berpenampilan biasa saja dan bekerja di sebuah showroom mobil kenamaan dikota besar ini. Dia datang dari keluarga miskin, ibunya seorang pedagang sayur yang setiap hari mengayuh sepeda berkeliling menjajakan dagangannya. Dia memiliki seorang adik perempuan yang duduk dibangku SMA, yang memiliki bakat yang hampir sama dengan kakaknya. Setiap pagi Anggun berangkat ke showroom dengan mengendarai motor baru, yang tentu saja hasil dari pekerjaan sampingannya selama ini. Menjadi smpanan, siapa sangka menjadi simpanan jauh lebih menguntungkan dari pada harus bekerja diintansi swasta.
Aku teringat akan sosok Leny, wanita simpanan Pak Haryo, seorang berpangkat militer dan terpandang dikota ini. Leny merupakan wanita karir, dia bekerja disebuah Bank swasta. Berperawakan tinggi besar dengan gaya pakaian yang modis, ditunjang dengan wajah yang cantik. Penghasilannya memang terbilang lumayan, namun bila mobilpun bisa dibelinya dengan mudah sudah pasti banyak orang akan tahu bahwa dia adalah seorang wanita simpanan. Apalagi Leny seorang single parent yang mengurus tiga orang anaknya yang sama-sama bersekolah. Sebenarnya dia tak ingin menjadi wanita simpanan, karena faktor ekonomilah dia melakukannya. Paling tidak itu yang kudengar keluar dari mulutnya. Alasan yang sudah barang tentu bukan hanya dia saja yang mengalami kesulitan ekonomi. Diluar sana banyak yang lebih kurang beruntung dari pada dirinya. Tapi entahlah, nyatanya dia bisa memiliki rumah yang terbilang mewah, sebuah mobil keluaran terbaru dan kehidupan anak-anaknya terjamin.
Kembali ke Anggun, dia tergolong orang baru didunia persimpanan. Umurnya baru 18 tahun, baru lulus SMA tahun kemarin. Tapi dia tergolong berani, perempuan seumurannya banyak yang menjadi pecun, pemandu karaoke plus-plus. Standar amanlah, namun dia mengambil langkah berani dengan menjadikan dirinya sebanagi simpanan. Perempaun bodoh, bahkan dia bisa mendapatkan yang lebih kaya dari pada Tuannya sekarang dan dengan predikat yang lebih terhormat dari hanya seorang simpanan.
Hari ini aku ada janji bertemu dengan Anggun, aku telah menyewa sebuah kamar hotel. Jam dua siang, dia terlambat. Dia janji akan datang jam setengah dua siang. Tapi setengah jam berlalu dia belum juga muncul mengetok pintu kamar hotel bernomor 14 yang kusewa ini.
Waktu berselang lima menit, terdengar suara pintu terbuka. Dia datang dan kaget melihatku yang ada didalam kamar. Bukan Manan, tapi aku.
"Maaf salah kamar"
"Bukan, kamu Anggun kan??"
Dia terdiam sejenak dan kemudian mengangguk.
"Aku yang sengaja mengaku Manan dan memanggilmu kesini"
Anggun masih terbengong tak mengerti maksudku. Mungkin dia pikir aku istrinya Manan.
"Kemari, duduklah. ayo kita bicara"
Dengan ragu dia mendekat dan kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan kusi yang ku duduki.
Ku tuangkan cola di gelas dan kusodorkan kepadanya untuk diminum. Ada keraguan di matanya ketika menerima gelas dariku.
"Jangan takut, bukan racun kok. masa iya aku mau meracuni perempuan cantik kayak kamu."
"Kamu siapa?? ada perlu apa denganku??"
Aku menghisap rokok ditanganku, kemudian asapnya ku hembuskan perlahan.
"Aku Alena, aku ingin tahu sejauh apa hubunganmu dengan Manan"
"Manan?? kita hanya teman."
Jawabnya singkat dan munafik. Ah, mana ada maling yang mau ngaku Alena.
"Oh ya?? apa sebatas teman memerlukan pertemuan disebuah hotel??"
"Kamu istri Manan?? aku dan Manan hanya berteman saja, tidak lebih."
"Bukan, apa kamu tidak tahukalau istri Manan bernama Mariam?? bodoh, berapa kali kamu tidur dengan suaminya sampai kamu tak tahu siapa nama istri Tuanmu??"
Dia tercekat mendengar kata-kataku barusan, terlihat sekali dari mimik wajahnya. Dia hendak beranjak, namun aku menahannya.
"Tunggu, aku belum selasai dengan pekerjaanku"
Anggun berusaha melepaskan cengkraman tanganku, namun sia-sia tenaganya kalah besar denganku yang sudah terlalu hafal dengan orang-orang sepertinya. Tak bisa melawan akhirnya dia kembali duduk.
"Apa motifmu mendekati Manan?? ekonomikah?? birahikah?? atau..."
Aku menghentikan pertanyaanku, matan Anggun melotot menatapku, tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Mukanya merah padam, dia marah dengan pertanyaanku barusan.
"Kamu tahu, aku banyak menghadapi perempuan simpanan yang lebih parah dibanding kamu. Mereka banyak tipe, dari mulai yang nyolot, ngeyel, penurut dan patuh, dan munafik juga ada"
"Apa maumu??"
"Jauhi Manan"
"Aku tak bisa"
"Kenapa??"
"Aku mencintainya"
"Bodoh, kamu cantik dan masih muda. Kamu bisa mendapatkan Seribu Manan yang tak beristri."
"Tidak bisa"
"Ekonomikah??"
Dia terdiam dan menunduk.
"Kamu tidak pernah tahu bagaimana hidupku, ibuku seorang pedagang sayur. Sejak kecil aku hidup kekurangan, baru setelah menjadi simpanan Manan aku bisa hidup enak. Handphone bermerek, motor baru, uang jajan lebih dan banyak lagi"
"Aku memang tak pernah tahu, aku bahkan baru mengenalmu hari ini. Tapi kamu tahu itu bukan hakmu, itu hak Mariam dan anak-anaknya. Coba pikirkan bila kamu ada di posisi Mariam, bagaimana perasaanmu??"
"Aku tak peduli, yang penting Manan bisa memberikanku semua, meskipun aku harus menjadi perempuan simpanan"
"Hina"
"Terserah apa kamu kata, kamu tak menjadi diriku. Tak pernah tahu rasanya menggigit kuku ketika semua temanku memakai gadget bermerek"
Ucapnya penush emosi. Tentu saja diumurnya yang masih tergolong labil dia belum bisa mengontrol emosinya itu.
"Aku memang bukan kamu, tapi banyak yang lebih kekurangan dari kamu. Kamu beruntung bekerja di showroom, tahukah kamu diluar sana mungkin banyak anak-anak kurang berntung yang mengais-ais sampah untuk makan hari ini??"
Anggun terdiam berusaha menurunkan emosinya.
"Kamu pertama yang termuda, dan terlabil. Kamu tahu aku punya kenalan, seorang perempuan simpanan sepertimu. Bukan, maksudku wanita simpanan. Dia bernama Maya, berumur 30 tahun anaknya dua. Dia ibu rumah tangga yang hidup kekurangan, suaminya dulu membuka usaha kecil-kecilan dan akhirnya bangkrut. Kebangkrutan itu yang menyebabkan dia jadi simpanan. Awalnya dia keukeuh nggak mau berhenti jadi simpanan, tapi setelah dia mikir bahwa memang tindakannya sebuah kesalahan dia akhirnya berhenti. Dia sadar bahwa memang banyak yang kurang beruntung dari dirinya."
"Aku bukan maya, aku beda dengan dia"
"Lalu apa maumu??"
"Aku ingin terus bersama Manan."
"Kita buat kesepakatan."
Anggun terlihat binggung. Aku mengambil tas di meja sudut ruangan dan mengeluarkan sesuatu. Ku keluarkan sebuah tas kresek hitam dari tasku dan kusodorkan ke arahnya.
Anggun menerima dan membukanya, dia terkejut ketika melihat isinya.
"Itu bisa jadi milikmu, tapi jauhi Manan."
Dia tersenyum mencibir. Di lemparkannya bungkusan kresek itu keatas meja.
"Aku bahkan bisa mendapatkan lebih dari ini dari manan."
Ucapnya kemudian berbalik badan hendak berlalu.
Belum sempat melangkahkan kakinya aku sudah lebih dulu menikamnya dengan pisau. Tepat di lehernya.
Anggun terjatuh, dan aku menindihnya. Dia mengeram dan akhirnya mencekikku, tapi sebentar saja. Dia sudah lemas kehabisan nafas.
Dia mati.
"Coba saja kamu nurut, pasti tak akan berakhir tragis anak manis."
Darahnya muncrat keman-mana, sial pembunuhan yang sama sekali tak rapi.
Kubersihakan sisa darah di pisau dan dibadanku, ku bungkus bajuku yang berlumur darah dan kumasukkan kedalam tasku. Setelah beres membersihkan badanku, kemudian kubereskan mayatnya sebelum aku meninggalkan hotel ini.
Handphoneku berbunyi, kuraih handphone yang sedari tadi tergeletak di meja.
"Bagaimana??"
Suara dari seberang.
"Everythings ok, she die"
"Alena??"
"Dia ngotot pengen terus jadi simpanan Manan, Mariam."
"Sudahlah, good job. Bersihkan semuanya, jangan sampai ada jejak."
"Aku lebih berpengalaman dari pada kamu tahu, haha."
knapa g jadi penulis aja mbak.... siapa tau bisa nyaingin si Raditya Dika.. hhahaha
BalasHapus