Selasa, 29 November 2011

Apa aku jahat?? (cerpen)

Malam ini aku masih termangu sendiri di rumah kontrakanku, kembali kuhela nafas. Kuingat lagi kejadian sore tadi, kejadian yang kupikir di luar nalar.
"dena, aku pengen kita balikan lagi",pernyataanmu yang terdengar bodoh untukku.
Aku terbengong tanpa bicara sepatah katapun. Tapi dalam hati berkali-kali aku mencibirmu, manusia plin-plan.
"dena, kamu mau kan kita balikan lagi. Aku begitu kehilangan setelah kamu pergi", kau mengemis. 

Kau mantan pacarku yang bernama Ardiansyah yang selama ini ku kenal acuh sekarang mengemis padaku, hah parodi apa ini.
"bukannya kamu yang ingin kita putus, karena menurut orang tuamu masa laluku bukanlah perempuan baik", jawabku dengan nada santai. Aku tak pernah berfikir bisa bersamamu lagi, itu saat yang paling bodoh dalam hidupku.
"itu kata mereka, tapi aku mencintaimu. Dan aku mau mencintai siapa bukankah itu urusanku?? Aku yang bahagia, bukan mereka" kau coba meyakinkanku.
Wow, great!! Kau sudah dewasa sekarang?? Kau baru sadar bahwa masa depanmu ada di tanganmu sendiri bukan di tangan orang tuamu itu. Ternyata kemarin-kemarin kau mabuk hingga tak tahu bagaimana mengatur masa depanmu hingga orang tuamu harus mengaturnya untukmu. Lucu, kau sudah membuangku dan sekarang kau memintaku untuk kembali.
Aku tersenyum, dan kau juga. Mungkin kau pikir aku mau berbaikan denganmu, tapi hilangkan saja pikiran itu. Aku bukanlah orang bodoh, aku berdiri dari tempatku duduk dan beranjak pergi. 

Kau coba menghentikanku, "dena aku mohon".
Aku mendorongmu hingga kau terjatuh, dan semua orang melihat ke arahku. Aku tak peduli apa yang mereka pikirkan tentang aku, aku berlalu dan meninggalkanmu.
Kutatap langit-langit kamarku, ku pandangi terus dan terus hingga tak ada apa-apa. Hampa, kosong dan gelap. Aku tertidur.


                                                       ^^^


Pagi ini aku kembali membuka mata, Terima kasih Tuhan untuk hari ini, aku masih bisa menghirup udaraMu dan tentunya waktu yang Engkau beri untuk memperbaiki hidupku. Kulirik jam weker di meja samping kamarku, pukul 8. Kembali ku arahkan pandangan ke sekeliling kamar tidurku, dan terhenti pada kalender yang menggantung di dinding. Tanggal 17, ya hari ini tanggal 17. Dan tepat 3 bulan sudah peristiwa itu terjadi, peristiwa yang tak kan aku lupakan dan akan terus membekas dihati. Darah, sakit, jeritan, air mata, penyesalan semua membuncah menjadi satu. Tuhan aku tlah melakukan dosa besar itu, ampuni aku Tuhan.
Malam itu ardiansyah mengajakku ke rumahnya, dia ingin mengenalkanku pada orang tuanya dan menikahiku yang sudah 2bulan hamil anaknya. Tapi ternyata bukan itu yang terjadi, dia dan orang tuanya membawaku ke sebuah dokter aborsi ilegal. Apa ini, Itulah yang ada di pikiranku yang masih bodoh. Aku  mencoba meyakinkan ardiansyah ini bukan solusi. Namun dia hanya diam menunduk bak orang bisu di hadapan orang tuanya. Ya aku tahu ini sudah di rencanakan, orang tuanya yang tak menyukaiku, di tambah aku yang hamil anaknya sudah barang tentu menikah bukan solusi. Dan aku tahu ardiansyah adalah seorang pengecut, yang takut dengan orang tuanya.Aku mencoba kabur, namun ardiansyah keburu mencengkram kuat lenganku. Ah peduli setan dengan semua, kubogem mukanya dengan satu tanganku yang masih bebas dari cengkramannya. Dia melepaskan tanganku dan berganti memegangi pipinya yang ku bogem tadi, dan itu kesempatanku untuk lari. Aku berlari, dan tiba di depan tangga ketika aku hendak menuruni tangga tersebut aku rasakan seseorang mendorongku dari atas. Ardiansyah mendorongku, kekecewaanku bersatu dengan rasa marah. Dan aku terjatuh, sakit, darah, darah darah, yang kucium hanya bau anyir darah itu. Darahku. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi.
Ketika bangun aku sudah ada di rumah sakit, sendiri tanpa ardiansyah apalagi keluarga. Aku sudah tak punya siapa-siapa lagi disini. Malangkah nasibku?? Tentu tidak, aku akan punya bayi. Itu yang ada dipikiranku sebelum dokter memberi tahu bahwa aku telah kehilangan bayiku, dan itu membuatku sangat terpukul. Aku menangis, tapi itu hanya sebentar. Selanjutnya hatiku hanya di liputi perasaan bencidan dendam. Ardiansyah pergi entah kemana tak ada kabar dan meninggalkan luka yang tak akan pernah hilang. 
Dan kemarin dia muncul lagi di hadapanku, berharap aku memberinya sedikit belas kasihan. Jangan mimpi.


                                                         ^^^


Aku sampai di kantor dengan tergesa-gesa karena sempat melamun tadi, huft kebiasaan lama. Langkahku terhenti melihat sosok ardiansyah tengah mematung di lobi kantorku. Buat apa lagi dia kesini, pikirku. 
"dena", dia memanggilku setelah menemukan aku yang tengah berjalan mendekati tangga menuju lantai atas.
Aku menoleh, "sekarang apa? Kamu mau mengganggu hidupku? Lagi?"
"bukan itu maksudku, kamu tahu aku cuma ingin kita kembali"
Aku berang dengan kata-katanya gampang sekali bilang ingin kembali setelah menghancurkan segalanya. Aku berlalu menaiki tangga agar tak tersulut kemarahanku. Tapi ardiansyah terlalu cepat mencegahku lebih banyak meneiki anak tangga.
"Dena aku merasa kehilangan kamu, maafkan aku", dia jadi pengemis lagi.
Aku tersenyum mengejeknya,
"kamu harus bayar mahal untuk mendapatkan maafku setelah semua yang kamu lakukan padaku",
Dia mengangguk, "baik, apa itu"
"akan aku pikirkan", jawabku dan kemudian berlalu.

Dia hanya terdiam, mingkin lega dengan jawabanku barusan. Tanpa tahu apa yang ada dalam pikiranku, pikiran yang penuh dendam dan benci.

                                                          ^^^

Hari ini genap seminggu aku dan ardiansyah baikan, dia begitu mencintaiku melebihi sebelumnya. Dia pura-pura menurut pada orang tuanya agar mendapatkan fasilitas dan uang yang banyak untuk memanjakanku. Tentu saja aku yang mempengaruhinya, dan apakah aku jahat?? Yang mereka lakukan lebih jahat lagi. Aku mempengaruhinya untuk membenci orang tuanya, membuatnya hanya memanfaatkat orang tuanya untuk kesenangan saja. Aku dan ardiansyah sengaja menyewa hotel di lantai paling atas untuk merayakan seminggu jadiannya kami. Dan aku tentu sudah menyiapkan kado spesial untuknya. 
"sayang, aku ingin kamu..dan aku nggak ingin kamu kembali pada orang tuamu", ucapku berusaha menyempurnakan skenarioku.
"Aku tahu, aku akan selalu bersama kamu", jawabnya di balkon kamar hotel.
"kamu berjanji??"
"ya", jawabnya.
Aku memeluknya dari belakang, "kamu tahu, sudah lama aku menunggu saat-saat ini"
Dia mengengguk. Kulepaskan pelukanku dan mundur sedikit kebelakang, kemudian kudorong punggungnya seperti ketika dia mendorong penggungku hingga aku terjatuh dari tangga dan kehilangan bayiku. Dia kaget berusaha bertariak meminta tolong, namun terlambat badanya sudah lebih dulu menghantam parkiran di bawah.Aku melihat mayatnya dari atas sini dan aku tersenyum.
"apa aku jahat??", tanyaku kemudian terdiam cukup lama.
"aku hanya membalas apa yang telah mereka lakukan padaku", jawabku.



Kamis, 24 November 2011

pekerja dan ibu rumah tangga sama-sama menyenangkan

Bekerja dan jadi ibu rumah tangga itu menyenangkan!! Yup, itu benar sekali karena selam ini saya menjalani semua itu. Dan alhamdulillah nggak ada tuh capek yang berarti, ops sampai saat ini ya?? Saya harap semuanya bisa barjalan lancar, karir dan rumah tangga bisa berjalan dengan seimbang. Amin.
Sebelum menikah saya bekerja, bahkan setelah menikah dan punya anak juga saya masih bekerja.
Bekerja itu menyenangkan, dan itu fakta. Saya bekerja di radio swasta di kota tempat saya tinggal, baca disini.
Memilih bekerja di radio karena saya pikir enak saja karena kerja model shift seperti itu, toh waktu saya juga tersisa banyak untuk mengurus pekerjaan rumah. Awalnya saya tak menyangka bisa bekerja menjadi aouncer seperti sekarang ini, karena tentu saja pekerjaan ini membutuhkan bakat. Dan saya tak memiliki bakat ini, satu-satunya bakat saya adalah menggambar. Ya, saya hobi sekali gambar. Pernah ketika SMP gambar saya disita oleh guru ketika ketahuan menggambar di tengah pelajaran.
Kembali ke pekerjaan saya, soal bakat itu bisa muncul dengan latihan. Hmm, dan benar saja saya akhirnya bisa menjadi anouncer seperti sekarang. 
Pagi hari jam7, saya sudah ada di radio. Dan sikecil?? Untung saja saya memiliki keluarga yang mengeti saya, sehingga saya bisa menitipkan si kecil pada mereka selagi saya bekerja. Dan tentunya tanpa rasa cemas, karena sudah dari lahir si kecil akrab dengan keluarga saya. Setiap hari saya bekerja mulai jam7 hingga jam12 siang, 5 jam yang bisa di bilang santai. Meski sebenarnya bisa merusak mata saya karena harus mengahadap 2 buah pc sekaligus dalam waktu selama itu. Mungkin itu salah satu resiko pekerjaan saya, ya seperti yang kita tahu setiap pekerjaan tentu ada resikonya bukan??
Jam 12 siang waktunya pulang, namun kadang saya tak bisa langsung melenggang pulang. Ke kantor pos, atau pula menagih iklan ke konsumen harus saya lakukan sebelum saya pulang kerumah. Tak jarang sampai memakan waktu 1 jam, sampai di rumahpun saya sudah kembali di sibukkan dengan si kecil yang baru berumur 2 tahun. Memang sudah bisa main sendiri, tapi masih perlu pengawasan. Bonus tersendiri bila saya pulang dan sikecil sedang tidur siang, saya bisa langsung mencuci. Soal makan sih, nanti saja nunggu si kecil bangun tidur. Kami suka makan bareng. Oh ya soal mencuci jangan dipikir saya enak-enakan mencuci pakai mesin cuci ya, saya mencuci pakai tangan dan airnya juga saya menimba di sumur belakang rumah. Yah capek sih tapi saya lebih suka pakai tangan soalnya sekalian olah raga gitu. Suami pernah nawarin mau di beliin, tapi saya nggak mau. Wong saya masih sehat gini, lagian kalau pakai mesin cuci juga pakai listrik. Boros. Selain mencuci saya juga menyetrika, dan semua pekerjaan itu saya lakukan sendiri tanpa pembantu. Ngapain punya pembantu kalau kita bisa ngerjaan sendiri, udah semua beres sehat lagi. 
Nah buat saya yang nggak punya waktu buat olah raga, mengerjakan pekerjaan rumah malah bikin saya sehat lho. Alhamdulullah saya nggak pernah sakit, kalaupun sakit paling cuma flu, migrain gara-gara mantengin pc terus tiap hari, kalau nggak maag( ini karena sering telat makan).
Bekerja dan ngurus rumah sebenarnya melelahkan juga, bangun pagi dan menyiapkan semua yang di butuhkan suami. Mandi pagi, memandikan si kecil, beli sarapan. Kemudian berangkat kerja, pulang kerja mengurus pekerjaan rumah, main bareng si kecil, masak, dsb banyak banget kegiatan sampai mau bubu.
Dan tau nggak, bahwa tidur siang adalah momen langka buat saya. Say bubu siang mungkin cuma 2x seminggu, pas saya libur hari Jum'at dan hari minggu pas pulang kerja jam10.
Rutinitas saya selalu sama setiap hari dan saya menyukainya.
Menjadi pekerja menyenangkan dan menjadi ibu rumah tangga menyenangkan juga. :)

Sumber gambar: dari google

Selasa, 22 November 2011

Pengalaman horror saya

Hore!! Mood saya sedang mengalir dengan derasnya, sampai-sampai tak terbendung lagi.
Tau deh dari mana ni mood datenganya bisa tiba-tiba ngebet banget buat nulis lagi. Yippi!!
Langsung sajalah, tak usah berlama-lama. Saudara pasti udah sering kan mendengar cerita horor a.k.a cerita seram?? Huhu, saya mau berbagi cerita seram saya kali ini, karena saya pikir asik aja bisa menceritakan pengalaman seram pada teman-teman semua. Buat yang takut, kagak usah baca aja ya..
Dari kecil saya itu nggak pernah sekalipun ngeliat yang namanya hantu, kadang sih suka penasaran juga pengen sekali dua kali di liati. Pokoknya tuh saya yang sekalipun nggak pernah nggeh ma begituan, sampai dengan masuk SMA kelas 1 pas persami gitu awal pengalaman saya.
Ini deh lengkapnya,
  • Persami, awal masuk SMA. Jadi gini, saya di terima di salah satu SMA favorid yang mengharuskan siswa baru mengikuti Persami, persami itu sendiri singkatan dari perkemahan Sabtu Minggu. Saya berangkat buat kemah sore jam 3, nah itu sepanjang kegiatan lancar-lancar aja sampai saat renungan malam. Nah di situ kita(anak kelas 1 semua) di tempatin di lapangan basket, yang kita semua di tempatin ngadep timur, di situ kita di barisin,. Disi nih saya mulai merinding, di atas tembok tuh ada putih-putih goyang-goyang, nari-nari gitu. Saya perhatiin lama ahkirnya saya tau mahluk apakah itu, Mr. P ternyata. Astaghfirullah...saya berkali-kali baca istigfar. Eh ntu mahluk kaagak minggir juga, saya alihkan panadangan dan mengikuti acara, sampai acara selesai baru saya nengok. Eh udah pergi loh.... Keesokan harinya pas mau pulang, saya tanya ke kakak pembina apa si Mr. P itu boongan, eh si kakak pembina saya malah bengong, kemudian menjelaskan kalau nggak ada acara nakut-nakutin. Saya baru ngerti itu mahluk beneran ternyata, dan kalau di logika emang nggak mungkin kita di kerjain kakak pembina, secara sebelah tembok itu adalah lorong yang menuju ke makam, lhah sapa juga yang mau malem-malem nakutin di lorong makam. 

  • Yang ke dua, dirumah. Nah ini sering malah, jadi gini pas saya tidur itu pernah kayak ada yang belai. Saya langsung bangun, ngos-ngosan, deg degan, secara saya bobo sendirian ya. Sapa coba?? Yang berikutnya pasa saya tidur juga, kamar saya atasnya itu pas sambungan rumah, jadi di pasang seng(talang). Pas saya tidur sering kebangun tengan malam ntah kebelet pipis, apa hp saya bunyi. Tau deh tu malem saya kebangun karena apa, yang jelas di seng atas kedengeran ada orang jalan. Pas pagi saya cerita ke ibuk di bilang kucing. Masak kucing, orang langkahnya kayak orang gitu. Hi

  • Saudara, radio itu horor!! Itu menurut saya ya, hehehe. Soalnya sering banget ketemu yang begituan di radio. Yang pertama, di radio saya dulu(sekarang saya di radio yang baru) saya dapet jadwal sampe jam10 malem. Sebelum berangkat saya beli nasi goreng dulu sama suami saya(dulu masih pacar), nah suami saya biasa nemenin saya siaran malem. Abis beli nasi goreng langsung ke radio, nah sampe di radio kita maem dulu, pas mau minum kan kudu ngambil gelas dulu di belakang. Saya nganbil sendiri tuh, pas mau balik say liat ke atas rumah tetangga samping kanan radio, ada putih-ptuh nungkrong disitu. Tau deh jenisnya apa, nggak mikir panjang saya langsung balik ke depan. Sampai ke depan suami saya bengong liat saya buru-buru, di tanya ada apa saya jawab ada setan noh di belakang. Suara ketokan dari kamar mandi kantor bos, jadi gini pas saya siaran malem kebetulan samping radio di adain Tahlilan orang meninggal, dari kabin siar saya ngrasa ada orang lewat. Eh selang bentar suami saya manggil dari luar, saya kelaur dan dia bilang "denger nggak ada suara ketokan:", sama merinding tapi saya bilang kalau itu kipas blower di belakang, padahal saya tau itu ketokan dari kamar mandi di ruang bos. Karena suami saya memang penakut, pas pulangnya saya baru ngasih tau kalau itu bukan kipas blower, tapi ketokan dari kamar mandi bos yang ruangan bos itu sendiri selalu di kunci dari luar.
Dan lagi nih, saya pas hamil sering banget ketemu begituan. Tapi saya cuekin aja, kadang ngikut juga pernah,. Rasanya tuh merinding, terus di kepala kerasa gede banget. Kalau udah gitu langsung deh ayat Kursi beraksi.
Kalau masih ngikut aja, saya baca terus itu Ayat Kursi sampai pergi sendiri. Nah, teman seperti kita tau kalau yang namanya setan itu nggak ada itu cuma jin yang menampakan diri sebagai Mr. P, Mrs. K dsb.
Dan jin itu bisa ngikutin apa yang kita ucapkan, jadi saya getolin itu baca Ayat Kursi karena kalau kita bacanya banyak dia akan kepanasan dan bakal pergi sendiri.
Itu kalau dia ngikut ya, tapi kalau nggak ada apa-apa ya udah. Kalau mereka kadang nongol gitu biarin aja mungkin mereka pengen di akui kalau mereka itu ada di antara kita.

Kalau di radio ini?? Hmm, rahasia saya saja deh....... :p

"Sample Syrup"

Hai...hai...., saya baru saja kejatuhan mood dari langit tingkat 7 untuk menulis.
Kemarin sih udah ada mood sebenarnya tapi males buat menyalurkannya, hanya beberapa kalimat yang tercipta. Yang belakangan saya delete.
Kalau ngomongin tulis menulis sebenarnya udah lama juga sih saya suka nulis, pas SMP dulu saya suka nulis cerpen. Tapi sempet stop gara-gara di rampas guru, terus mau nulis lagi tapi males. Lagian mood saya juga bisa datang dan pergi sesuka hati, dan dulu saya nulisnya masih di buku. Itu yang bikin males.

Tapi kalau sekarang saya biasa pake notebook buat nulis, kalau nggak pake kompi radio kayak sekarang.
Yah namanya fasilitas, kalau nggak di manfaatin mah percuma. Apalagi fasilitas ini bisa bikin saya jadi pintar.
Pintar dalam segala hal, pintar nulis, pintar browsing dan pintar facebookan. Hihihi.
Kalau dulu tulisan saya di simpen di rak buku-buku saya, sekarang tulisan itu saya tulis di blog ini. Ini adalah blog kedua saya, blog saya yang pertama saya tinggalkan karena nggak sesuai sama saya.

Saya ngebet punya blog gara-gara keseringan ngintip baca blog samandayu, itu blog keren banget dah. Biarpun blog-blog lain banyak yang keren, tapi buat saya itu blog punya samandayu anggara yang ngepas di hati saya. Bahasanya yang baku dan gaya penulisan yang nggak ikut-ikutan itu yang bikin saya suka. Cukup deh ngomongin itu yang punya blog, nanti dia makan keselek, jalan kesandung, tidurpun jadi tak nyenyak. 

Nah untuk tulisan saya yang lain ada di catatan facebookku, tapi yang udah lumayan lama.
"Sample syrup", nggak tau yah gimana kepikiran nama ini. Awalnya simple syrup, tapi pas saya googling nama itu udah di pake blog lain, yah akhirnya jadi yang sekarang ini deh.
Dalam ngasih nama ini karena berpegang pada hidup, yang ada manis ada asamnya kayak sirup. Nah sirup juga ada yang manis rasa cocopandan, dan ada yang asem rasa jeruknya kan?? Rasa manis sendiri kalau buat saya kayak kehidupan yang manis-manis kek cinta-cintaa, keluarga, teman dan saat-saat menyenangkan lainnya yang bikin kita tersenyum saat mengingatnya. Sedangkan rasa asem itu melambangkan kehidupan kita yang nggak enak, seperti kena PHK, di putus pacar, nggak naek kelas dan banyak lagi.
Itu dari asal nama blog saya, kalau dari isinya sih saya masih binggung mau saya kategorikan kayak apa. Saya lagi fokus nulis aja kali ini, kalau mengkategorikan nanti aja deh kalau blog saya sudah penuh. Kapan juga penuhnya, lho wong saya nulis aja nunggu mood dateng. Selain itu saya juga sibuk 7 turunan, jadi mungkin kalau berharap postingan di blog ini sampe 100 butuh waktu lama banget. Tapi yo wis lah, kalau ada waktu dan mood singgah di kepala saya, saya akan berusaha menulis biar blog saya penuh berjubel.

Salah satu opsesi saya pengen blog saya penuh kayak blog idola saya samandayu yang isinya keren-keren, Tapi mungkin nggak ya?? Apa sih yang nggak mungkin, tapi pasti bakal susah deh. Nggak ada salahnya juga mencoba, mencoba yang baik-baik kan nggak di larang ya??
Bismillah..

Senin, 21 November 2011

Aku, kau dan dia

Ini adalah kisah cinta
Antara aku, kau dan dia
Hmm.. aku mencintaimu, paling tidak itu yang kurasa
Dan dia tak pernah suka bila kucintaimu..
Dia hanya mau kau cintainya
Aku tahu kau juga mencintainya, walau kutahu cintamu padaku sudah tentu lebih besar di banding dengannya
Tapi, dia tak bisa menerima bila kau lebih cintaiku
Dia ingin kau lebih mencintainya
Huhh...aku kesal ingin ku bunuh dia saja agar kau jadi milikku
Namun itu tak mungkin terjadi, karena bagimu dia segalanya
Dan aku hanya pelengkap saja



Sabtu, 19 November 2011

Pembelajaran Hidup

Sejenak menengok realita kehidupan di hadapan kita.
Kehidupan yang berbeda, dari wajah, tubuh, kepribadian hingga strata sosial...
Satu potret kehidupan yang membuat setiap orang tercengang, terperangah bahkan acuh tak acuh.
Di tengah keramaian kota kecilku kutemui sepasang suami istri yang mencari nafkah dengan binatang peliharaannya.
Topeng monyet, bukan satu yang asing bagi kita semua.
Yah...sejak kecil saya sudah mengenalnya. Begitu juga sekarang saya mulia mengenalkannya pada genduk kecilku.
Klonengan musik mengawali polah tingkah binatang itu untuk membantu tuannya mencari sedikit rejeki untuk mencukupi kehidupan mereka, atau bahkan hanya untuk makan malam ini.
Menjadi pedagang sayur, petani, pembalap hingga meniru posisi ketika sholat.
Alangkah lucunya, dan alangkah mirisnya.
Lucu untuk polah tingkah monyet itu, dan miris untuk realita hidup yang terjadi di hadapanku.
Kehidupan yang mengharuskan mereka melakukan ini, menyembul tanya ketika memperhatikan pasangan yang kompak tersebut, dimana rumah mereka, bagaimana anak mereka, kemudian dimana mereka akan tidur malam ini, serta cukupkah uang yang mereka dapatkan untuk menghidupi keluaraga mereka di rumah???
Astaghfirullah......betapa saya masih beruntung dengan hidup yang telah Allah gariskan ini...
Kadang saya sering mengeluh, entah uang yang ta cukup atau lelah dengan pekerjaan yang saya jalani.
Betapa kurang bersyukurnya saya selama ini.
Entah bagaimana bila menjadi seperti mereka.
Alunan musik berangsur-angsur hilang, drama kehidupan tersebut telah selesai.
Suami menggiring si monyet serta mengulurkan baskom ke penonton untuk meminta sedikit hasil dari atraksi monyetnya.
Tiba giliranku, sebelumnya telah ku genggamkan dua lembar uang ribuan ke genduk kecilku agar ia memasukkan uang tersebut ke baskom pemilik monyet tersebut.
Sedikit mengajarkan agar ia peduli dengan orang lain, agar tak selalu melihat ke atas.
Agar ia mengerti bahwa masih banyak orang yang tak seberuntung dirinya, serta membuatnya bisa bersyukur atas ketentuan yang telah Allah berikan.


Sumber gambar: dari google

Kamis, 17 November 2011

Saya dan Radio

Halo saudara?? Hmm, bagaimana kabar anda hari ini?? Kabar saya baik, dan semoga anda juga.
Hua, udah ah ngomong pake bahasa formalnya, enakan pake bahasa gini. Lebih gaul, lebih enak juga bacanya, biarpun dalam EYD salah kaprah semua.Maaf ya saya memang bukan menganut berbahasa baku dengan baik dan benar. Kalaupun pake bahasa baku itu tergantung mood saya :p
Eh nggak juga ding, kalau saya kerja juga pake bahasa baku kok. Soalnya saya kerja di radio bagian anouncer yang mewajibkan saya pake bahasa baku kalau siaran. Walau terkadang pas bawain acara anak muda saya lebih suka pake bahasa ala kadarnya yang sama sekali nggak ada baku hehe.
Radio, radio, radio... udah lama sih saya kerja di radio. Udah 3tahunan lebihlah, radio ibarat rumah kedua bagi saya. Biarpun saya udah pindah kerja dari radio satu ke radio lain. Nah, di radio Duta Suara ini yang paling lama. Soal jarak radio ini dari rumah yah samalah kayak jarak radio lama saya dulu. Kalau nyamannya?? Hmm bentar deh saya coba inget dulu, sama aja nyamannya. Ada TV, Dispenser, Sofa, nilai plus di radio saya ini ada fasilitas internetnya. Mkanya saya tiap hari online, kecuali hari jum'at. Saya libur hari jum'at saudara, harap di catat :)
 saya berkuasa di sini mulai  jam7 sampe jam12, huhu
Pc monitor lagu
parade musik Duta Suara 19 Mei 2011
Satu lagi, cara kerja disini tuh nyantai banget, tapi biar nyantai gitu tetep ada aturan yang harus di patuhi lho. Dan saya adalah karyawan tersantai di sini hohohhoooo
Biar saya tersantai tapi saya juga punya tanggung jawab, salah satunya adalah di bagian rekaman. Bikin iklan salah satunya, nah ini nilai plus kerja di radio ini. Saya bisa belajar cool edit pro, nambah pengalaman :)
Terus saya juga bagian wira-wiri, jadi untuk nagih iklan tiap awal bulan atau juga ngeposin tagihan iklan saya juga yang pegang. Hmm, ribetkah?? Enggak juga, saya malah senang bisa tau macam-macam. Tau bagaimana caranya bayar pajak, kenal banyak orang dengan berbagai macam karakter, dan pastinya membuka pintu rejaki saya. Yah, untuk pekerjaan tambahan di atas tadi lumayanlah bisa buat beli bensin, maklum saya juga ibu rumah tangga yang harus menghemat uang.
Sekarang masalah iklan yang masuk di radio, saya sedikit sedih saudara bulan ini sudah 2 iklan saya turun. Berkurang deh pendapatan saya, padahal bisa buat beli beras lho :p
Untuk setiap iklan yang masuk di radio(iklan yang saya cari sendiri), ini saya dapat 20% dari tarif iklan untuk bonusnya Misalnya tarif iklan 400rb saya dapat 80rb. Alhamdulillah buat beli jajan si kecil.
Terus ada lagi, yang ini nitipin produk dari radio ke apotik dan toko roti. Tiap barang saya dapet 1500, nah sebulan bisalahlah jual sampai 20buah. Kalau dulu sampe 40an, sekarang rada menurun. 
Sedih juga penghasilan saya turun, tapi rejeki ada yang ngatur. Nggak perlu kwatir, sapa tau gantian gaji suami saya yang naik hihi.
dj kecilku di radio
Hari libur atau tanggal merah saya juga biasanya ngajak si kecil ke radio, buat nemanin saya kerja. Asik aja, biar karang terasa repotnya. Nggak ada salahnya mengenalkan si kecil sama kerjaan saya, toh dengan gitu dia bisa ngerti bagaimana usaha mamanya baut bahagiain dia.
Radio ini juga tempat yang paling nyaman buat melepas rasa kesal, ketika ada masalah dirumah, nah di radio ini saya meluapkannya. Kalau dulu pas masih ababil saya sering melampiaskan marah dengan semau saya, baca di sini. Sekarang bisa lebih lembut kalau mencurahkan kemarahan itu, salah satunya dengan menulis. Hia, tapi sekarang saya tidak lagi marah lho. Hari ini suasana hati saya sedang dalam taraf sedang-sedang saja. Dan kalaupun saya nulis, ini karena lagi pengen aja :)
Ya saya kerja diradio, gaji saya memang tak seberapa. Saya bisa belajar banyak di sini. Soal bahagia dengan gaji yang bisa di bilang pas-pasan, kembali lagi kepada seberapa bisa kita bersyukur atas apa yang telah kita dapat. :)


sumber gambar: koleksi pribadi

Rabu, 16 November 2011

Pelampiasan kemarahan, pentingkah??

Selamat pagi, hmm mungkin itu saja yang bisa saya sapakan untuk semua. Pagi ini suasana hati saya sedang tidak secerah pagi-pagi kemarin, tadi sebelum berangkat ke kantor sedikit ribut sama orang rumah. Bukan sam suami saya loh?? Saya masih numpang tinggal dengan ibu saya, jadi maklumlah bila sedikit-sedikit terjadi keributan.
Susah rasanya menggambarkan emosi yang tengah meluap, susah lagi hidup masih menumpang seperti saya. Pengen sih punya rumah sendiri, tapi dananya masih belum ada. Mau ngingetin dikit, di bilang marah-marah, mau nggak di penjemin barang ntar di bilang pelit. Huh, menyebalkan!!
Apalagi kalau sudah mulai adu mulut, olala bisa-bisa rumah saya jadi kapal pecah. Secara saya orangnya nggak mau kalah dari kecil, kesel dikit bisa mukul apapun yang ada di depan saya.
Pernah dulu pas masih sekolah, saya jengkel karena terlalu di atur ibu. Ibu marahin saya nggak terima saya marah, adu mulut, dan akhirnya saya ngalah terus masuk kamar dan teriak sekencengnya.
Mau di bilang gila kek ma tetangga, saya nggak peduli. Saya sudah kadung kesel, dan saya pikir untuk meluapkan segalanya berteriak adalah solusi. Naif sekali :p
Saat saya sudah mulai bekerja, kembali saya bertengkar dengan ibu. Maklumlah dari kecil saya deketnya sama si mbah, jadi lebih banyak ribut sama ibu. Saya nggak pernah cocok dengan ibu.
Kami bertengkar kembali, dan saya lebih milih masuk kamar dari pada menjadi anak durhaka yang balik mengomelinya. Dan kali ini saya tidak teriak saudara, tapi memukul kaca di kamar sampai pecah.
Tangan saya sampai berdarah-darah, rasanya sakit sih. Tapi sebodoh amat, yang namanya jengkel tetep saja jengkel, kalau belum di lampiaskan bakal ganjel di hati.
Ya saudara setanah air, begitulah saya beberapa tahun lalu belum bisa mengontrol emosi.
Apa saya menakutkan?? Tentu tidak, bahkan saya pernah lebih nekat lagi. Hehheee
Nah marah itu sendiri adalah rasa sangat tidak senang (karena dihina, diperlakukan tidak sepantasnya, dsb), berang, gusar. Itu menurut KBBI,  marah itu juga bisa di sebabkan banyak hal.
Contoh sepele, tidak mematuhi aturan dan akhirnya kena marah, ribut sama pacar dll. Cari contoh sendiri saja ya, saya yakit kita semua pasti pernah marah.
Kalau sudah marah tentunya selalu ada yang namanya pelampiasan kemaraha, betul sekali kebanyakan orang merasa marah tanpa pelampiasan bak nasi pecel tanpa tempe. :)
Pelampiasan marah ini bisa macem-macem, ini nih labih panjangnya ya
  • Nangis, yup yang paling save dari pelampiasan kemarahan yang pertama adalah ini. Nangis dan di sertai pengurungan diri di dalam kamar. Untuk beberapa saat menenangkan diri, setelah puas nangis pasti bakal baikan seperti biasa lagi.
  • Teriak, nah saudara teriak ini merupakan luapan kekesalan. Dn banyak juga yang berteriak buat menghilangkan beban di dada, yang paling banyak di pilem-pilem itu berteriak di pantai atau di lapangan.
  • Memaki. Memaki adalah mengeluarkan kata-kata kotor ketika marah, beberapa orang memaki ketika marah bisa melampiaskan kakesalannya. Memaki=misuh.
  • Membanting benda di sekitarnya, hia ini yang bisa bikin jadi kere. Lhah gimana nggak coba?? Pas marah, tipe orang dengan pelampiasan kekesalan ini bisa main lampar apa saja yang ada di depan dia. Kalau pas marah di rumah dia sendiri, lha kalau pas main di rumah kita dia lagi marah bisa-bisa barang-barang kita hancur mina.
  • Mukul. Kebiasaan saya kalau kesel mukul tembok, yah biar marahnya nyalur ke tembok gitu makasudnya. Hahaha, nggak lah biar plong aja. Biar tangan saya sakit tapi sedikit pamer kalau saya jago mukul tembok huhu :p
  • Menyakiti diri sendiri. Nah ini yang sedikit bikin ngeri. Bnyak kasus yang saya temui adalah menyayat tangannya. Eh tapi bukan nadi ya?? Paling tangan doang kok, rasanya sih perih-perih gitu dan pasti berdara-darah juga. Seperti emo gitulah, tapi yang ini lebih ke pelampiasan kemarahan.
Usia kita makin bertambah, makin pula kita akan mengerti bagaimana cara yang ampuh meredam emosi. Kedewasaan kita, kehardiran si kecil, kemudian faktor-faktor yang lain akan menjadi pembantu kita dalam menyelesaikan masalah yang ada dan bukan hanya bisa melampiaskan. Pelampisan kemarahan itu wajar-wajar saja, toh juga tidak ada larangan dalam melampiaskan kemarahan itu sendiri.
Namun lebih baik bila berupa hal-hal positif, misalnya menulis. Mencurahkan isi hati yang galau ke dalam tulisan sah saja. Bukan untuk di publikasikan, namun untuk milik pribadi, cermin diri serta tolak ukur seberapa dewasanya kita.



sumber:
Gambar dari google


    Senin, 07 November 2011

    Roda Kehidupan (cerpen)

    Hidup sederhana, begitulah yang selalu ibu ajarkan padaku setelah aku dan keluargaku tak lagi menikmati hidup mewah. Ayahku di PHK dari perusahaan tempatnya bekerja bertahun-tahun, perusahaan yang menghasilkan rupiah-rupiah lebih untuk membuatku bahagia. Ya, itu dulu sangat lama ketika aku masih duduk di bangku SD, apa sih yang tak di punya olehku?? Tas, sepatu, baju-baju yang semua model terbaru.
    Aku tentunya masih ingat betapa ketika duduk di bangku SMP aku masih sempat memakai sepatu dan tas dengan kwalitas terbaik. Bahkan dalam satu kesempatan aku bisa membeli dua sepatu sekaligus.
    Tapi sobat, itu sudah lama sekali.
    Saat aku duduk di bangku SMA, dimana di sebut dengan masa-masa indah aku hanya terdiam di pojok kelas.
    Tentunya dengan keterbatasanku, tanpa tas terbaru atau juga sepatu baru. Dan inilah masa-masa sulitku, ayahku kena PHK dimana kami sekeluarga harus berhemat untuk kebutuhan sehari-hari.
    Sekarang aku telah bekerja, dimana aku telah mulai mencukupi kebituhanku sendiri mulai dari 4 tahun lalu, setahun setelah aku lulus SMA. Meskipun gaji yang ku dapat tak seberapa namun paling tidak aku sedikit meringankan beban kedua orang tuaku.
    Rasanya teringat kembali dengan masa-masa kecil itu, tanpa pikir panjang aku minta ini itu saat berbelanja di swalayan. Seperti saat ini tepat di hadapanku kulihat seorang gadis kecil berusia 5 atau 6 tahun tengah merengek minta di belikan sepatu oleh ibunya. Aku hanya menelan ludah menyaksikan pemandangan itu di hadapanku, dulu aku pernah seperti itu ucapku dalam hati. Pernah membeli semua yang aku mau, tapi sekarang??
    Kembali ku alihkan pandangan ke gadis kecil itu dan ibunya, ibunya tampak kesal karena bukan hanya satu macam saja yang di inginkan anak itu. Lucu juga pikirku, seperti aku entah berapa tahun yang lalu. Anak itu beruntung, apa yang ia mau dapat ia beli, ah lebih tepatnya di belikan oleh orang tuanya.
    Anak kecil seperti itu belum mengerti akan hidup, ia hanya tahu meminta tanpa tahu bagaimana kerja keras orang tuanya untuk bisa membuatnya bahagia. Ia belum bisa berfikir tentang masa depan, bagaimana masa depannya kelak. Apakah orang tuanya tersebut masih bisa membelikan semua yang ia mau??
    Ataukan orang tuanya masih sekaya dulu?? Yang ia tahu hanya semua yang ia mau akan terbeli, dan tentu saja ayahnya masih kaya. Yah, pemikiran anak kecil bahkan belum sampai pada istilah "roda itu selalu berputar". Kadang di atas, dan kadang juga di bawah.
    Begitu juga hidup kita, dan sudah barang tentu aku mengiyakannya karena memang aku telah mengalaminnya.

    posted
    Sunday, nopembar 6 2011
    in myOffice