Malam ini aku masih termangu sendiri di rumah kontrakanku, kembali kuhela nafas. Kuingat lagi kejadian sore tadi, kejadian yang kupikir di luar nalar.
"dena, aku pengen kita balikan lagi",pernyataanmu yang terdengar bodoh untukku.
Aku terbengong tanpa bicara sepatah katapun. Tapi dalam hati berkali-kali aku mencibirmu, manusia plin-plan.
"dena, kamu mau kan kita balikan lagi. Aku begitu kehilangan setelah kamu pergi", kau mengemis.
Kau mantan pacarku yang bernama Ardiansyah yang selama ini ku kenal acuh sekarang mengemis padaku, hah parodi apa ini.
Kau mantan pacarku yang bernama Ardiansyah yang selama ini ku kenal acuh sekarang mengemis padaku, hah parodi apa ini.
"bukannya kamu yang ingin kita putus, karena menurut orang tuamu masa laluku bukanlah perempuan baik", jawabku dengan nada santai. Aku tak pernah berfikir bisa bersamamu lagi, itu saat yang paling bodoh dalam hidupku.
"itu kata mereka, tapi aku mencintaimu. Dan aku mau mencintai siapa bukankah itu urusanku?? Aku yang bahagia, bukan mereka" kau coba meyakinkanku.
Wow, great!! Kau sudah dewasa sekarang?? Kau baru sadar bahwa masa depanmu ada di tanganmu sendiri bukan di tangan orang tuamu itu. Ternyata kemarin-kemarin kau mabuk hingga tak tahu bagaimana mengatur masa depanmu hingga orang tuamu harus mengaturnya untukmu. Lucu, kau sudah membuangku dan sekarang kau memintaku untuk kembali.
Aku tersenyum, dan kau juga. Mungkin kau pikir aku mau berbaikan denganmu, tapi hilangkan saja pikiran itu. Aku bukanlah orang bodoh, aku berdiri dari tempatku duduk dan beranjak pergi.
Kau coba menghentikanku, "dena aku mohon".
Kau coba menghentikanku, "dena aku mohon".
Aku mendorongmu hingga kau terjatuh, dan semua orang melihat ke arahku. Aku tak peduli apa yang mereka pikirkan tentang aku, aku berlalu dan meninggalkanmu.
Kutatap langit-langit kamarku, ku pandangi terus dan terus hingga tak ada apa-apa. Hampa, kosong dan gelap. Aku tertidur.
^^^
Pagi ini aku kembali membuka mata, Terima kasih Tuhan untuk hari ini, aku masih bisa menghirup udaraMu dan tentunya waktu yang Engkau beri untuk memperbaiki hidupku. Kulirik jam weker di meja samping kamarku, pukul 8. Kembali ku arahkan pandangan ke sekeliling kamar tidurku, dan terhenti pada kalender yang menggantung di dinding. Tanggal 17, ya hari ini tanggal 17. Dan tepat 3 bulan sudah peristiwa itu terjadi, peristiwa yang tak kan aku lupakan dan akan terus membekas dihati. Darah, sakit, jeritan, air mata, penyesalan semua membuncah menjadi satu. Tuhan aku tlah melakukan dosa besar itu, ampuni aku Tuhan.
Malam itu ardiansyah mengajakku ke rumahnya, dia ingin mengenalkanku pada orang tuanya dan menikahiku yang sudah 2bulan hamil anaknya. Tapi ternyata bukan itu yang terjadi, dia dan orang tuanya membawaku ke sebuah dokter aborsi ilegal. Apa ini, Itulah yang ada di pikiranku yang masih bodoh. Aku mencoba meyakinkan ardiansyah ini bukan solusi. Namun dia hanya diam menunduk bak orang bisu di hadapan orang tuanya. Ya aku tahu ini sudah di rencanakan, orang tuanya yang tak menyukaiku, di tambah aku yang hamil anaknya sudah barang tentu menikah bukan solusi. Dan aku tahu ardiansyah adalah seorang pengecut, yang takut dengan orang tuanya.Aku mencoba kabur, namun ardiansyah keburu mencengkram kuat lenganku. Ah peduli setan dengan semua, kubogem mukanya dengan satu tanganku yang masih bebas dari cengkramannya. Dia melepaskan tanganku dan berganti memegangi pipinya yang ku bogem tadi, dan itu kesempatanku untuk lari. Aku berlari, dan tiba di depan tangga ketika aku hendak menuruni tangga tersebut aku rasakan seseorang mendorongku dari atas. Ardiansyah mendorongku, kekecewaanku bersatu dengan rasa marah. Dan aku terjatuh, sakit, darah, darah darah, yang kucium hanya bau anyir darah itu. Darahku. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi.
Ketika bangun aku sudah ada di rumah sakit, sendiri tanpa ardiansyah apalagi keluarga. Aku sudah tak punya siapa-siapa lagi disini. Malangkah nasibku?? Tentu tidak, aku akan punya bayi. Itu yang ada dipikiranku sebelum dokter memberi tahu bahwa aku telah kehilangan bayiku, dan itu membuatku sangat terpukul. Aku menangis, tapi itu hanya sebentar. Selanjutnya hatiku hanya di liputi perasaan bencidan dendam. Ardiansyah pergi entah kemana tak ada kabar dan meninggalkan luka yang tak akan pernah hilang.
Dan kemarin dia muncul lagi di hadapanku, berharap aku memberinya sedikit belas kasihan. Jangan mimpi.
^^^
Aku sampai di kantor dengan tergesa-gesa karena sempat melamun tadi, huft kebiasaan lama. Langkahku terhenti melihat sosok ardiansyah tengah mematung di lobi kantorku. Buat apa lagi dia kesini, pikirku.
"dena", dia memanggilku setelah menemukan aku yang tengah berjalan mendekati tangga menuju lantai atas.
Aku menoleh, "sekarang apa? Kamu mau mengganggu hidupku? Lagi?"
"bukan itu maksudku, kamu tahu aku cuma ingin kita kembali"
Aku berang dengan kata-katanya gampang sekali bilang ingin kembali setelah menghancurkan segalanya. Aku berlalu menaiki tangga agar tak tersulut kemarahanku. Tapi ardiansyah terlalu cepat mencegahku lebih banyak meneiki anak tangga.
"Dena aku merasa kehilangan kamu, maafkan aku", dia jadi pengemis lagi.
Aku tersenyum mengejeknya,
"kamu harus bayar mahal untuk mendapatkan maafku setelah semua yang kamu lakukan padaku",
Dia mengangguk, "baik, apa itu"
"akan aku pikirkan", jawabku dan kemudian berlalu.
Dia hanya terdiam, mingkin lega dengan jawabanku barusan. Tanpa tahu apa yang ada dalam pikiranku, pikiran yang penuh dendam dan benci.
^^^
Dia hanya terdiam, mingkin lega dengan jawabanku barusan. Tanpa tahu apa yang ada dalam pikiranku, pikiran yang penuh dendam dan benci.
^^^
Hari ini genap seminggu aku dan ardiansyah baikan, dia begitu mencintaiku melebihi sebelumnya. Dia pura-pura menurut pada orang tuanya agar mendapatkan fasilitas dan uang yang banyak untuk memanjakanku. Tentu saja aku yang mempengaruhinya, dan apakah aku jahat?? Yang mereka lakukan lebih jahat lagi. Aku mempengaruhinya untuk membenci orang tuanya, membuatnya hanya memanfaatkat orang tuanya untuk kesenangan saja. Aku dan ardiansyah sengaja menyewa hotel di lantai paling atas untuk merayakan seminggu jadiannya kami. Dan aku tentu sudah menyiapkan kado spesial untuknya.
"sayang, aku ingin kamu..dan aku nggak ingin kamu kembali pada orang tuamu", ucapku berusaha menyempurnakan skenarioku.
"Aku tahu, aku akan selalu bersama kamu", jawabnya di balkon kamar hotel.
"kamu berjanji??"
"ya", jawabnya.
Aku memeluknya dari belakang, "kamu tahu, sudah lama aku menunggu saat-saat ini"
Dia mengengguk. Kulepaskan pelukanku dan mundur sedikit kebelakang, kemudian kudorong punggungnya seperti ketika dia mendorong penggungku hingga aku terjatuh dari tangga dan kehilangan bayiku. Dia kaget berusaha bertariak meminta tolong, namun terlambat badanya sudah lebih dulu menghantam parkiran di bawah.Aku melihat mayatnya dari atas sini dan aku tersenyum.
"apa aku jahat??", tanyaku kemudian terdiam cukup lama.
"aku hanya membalas apa yang telah mereka lakukan padaku", jawabku.







