Aku hidup sendiri, lebih tepatnya terbiasa hidup sendiri. Orang tuaku bercerai, dan entah sekarang mereka ada dimana aku tak tahu. Mereka pergi begitu saja setelah sidang perceraian selasai tanpa memperdulikan aku atau memang itu sudah menjadi niat mereka, tak ingin terbenani olehku. Aku terbiasa menjalani semua sendiri, sejak dua tahun lalu setelah mereka bercerai aku menempati rumah ini sendiri. Mereka lebih memengtingkan kesenangan dan ego mereka daripada harus merawat anak semata wayanangya. Setiap sebulan sekali mereka mentrasfer uang dalam jumlah banyak ke rekeningku untuk biaya kuliah dan kebutuhanku sehari-hari, meski kadang uang-uang itu masih sisa banyak. Mereka pikir uanga adalah segalanya, orang tua yang memiliki pemikiran sempit. Namaku Dara, aku anak tunggal dan hidup sendiri. Orang tuaku bercerai dua tahun lalu, dan sekarang mereka entah ada dimana hidup atau mati aku tak tahu.
Aku bolos kuliah lagi hari ini, hidup sendiri membuat hidupku berantakan. Jadwal makan yang tak teratur, bangun seenaknya, kuliah sering bolos, dan banyak lagi hal-hal berantakan dalam hidupku yang bila diceritakan akan menghabiskan banyak halaman buku. Aku mengabiskan waktuku di sebuah mall di kotaku, hari ini aku memang sengaja bolos karena memang aku sedang butuh refresh untuk otakku yang penuh ketidak teraturan. Aku berhenti di sebuah foodcourt untuk makan, kupesan makanan kemuadian aku menyodorkan kartu kreditku untuk membayarnya. Aku memilih tempat duduk di pojok dan mengalihkan pandanganku ke segala arah untuk menghilangkan jenuh sembari menunggu makananku siap. Mall yang ramai, ya mana ada mall sepi apalagi di kotaku ini. Banyak oarng berlalu lalang di mall ini, untuk belanja atau hanya sekedar cuci mata saja. Berbagai macam orang dengan wajah, pribari, warna kulit bahkan strata sosial tumpah ruah disini.
Mataku berhenti pada sosok perempuan tinggi berbadan besar yang berdiri tak jauh dari tempatku duduk. Perempuan itu berbaju terusan selutut berwarna hijau, sungguh contras dengan warna kulitnya yeng terbilang gelap. Dia terlihat menjinjing tas tangan dan memakai wedges yang tak kalah mencolok dengan warna bajunya. Tangannya besar, kakinya juga terlihat kasar. Kemudian kuperhatikan wajahnya, wajah yang terlihat berbeda dengan wanita kebanyakan. Garis wajahnya tegas, rahangnya terlihat kuat. Dan, hey apa itu di lehernya?? Perempuan itu memiliki jakun?? Bukannya jakun hanya dimiliki lelaki?? Aku sedikit terkekeh begitu menyadari betapa bodohnya aku yang tak tahu kalau perempuan itu adalah lelaki berpakaian perempuan. Atau yang biasa di sebut banci. Pantas saja tingkahnya terlihat wagu dan suaranya terdengar cempreng. Banci itu sekarang bergelayutan di pundak seorang lelaki bertumbuh tambun dan berdasi. Pasangan akhir zaman, pikirku.
Mataku berhenti pada sosok perempuan tinggi berbadan besar yang berdiri tak jauh dari tempatku duduk. Perempuan itu berbaju terusan selutut berwarna hijau, sungguh contras dengan warna kulitnya yeng terbilang gelap. Dia terlihat menjinjing tas tangan dan memakai wedges yang tak kalah mencolok dengan warna bajunya. Tangannya besar, kakinya juga terlihat kasar. Kemudian kuperhatikan wajahnya, wajah yang terlihat berbeda dengan wanita kebanyakan. Garis wajahnya tegas, rahangnya terlihat kuat. Dan, hey apa itu di lehernya?? Perempuan itu memiliki jakun?? Bukannya jakun hanya dimiliki lelaki?? Aku sedikit terkekeh begitu menyadari betapa bodohnya aku yang tak tahu kalau perempuan itu adalah lelaki berpakaian perempuan. Atau yang biasa di sebut banci. Pantas saja tingkahnya terlihat wagu dan suaranya terdengar cempreng. Banci itu sekarang bergelayutan di pundak seorang lelaki bertumbuh tambun dan berdasi. Pasangan akhir zaman, pikirku.
Aku cukup lama memperhatikan banci itu dengan pacarnya. Mereka memborong banyak aksesoris di toko samping foodcourt tempatku makan, mungkin untuk meyakinkan orang-orang bahwa si banci itu adalah perempuan tulen. Aku mengelihkan pandangan ke arah lain, dan kutemukan seorang lelaki berwajah imut sedang duduk di samping tempatku duduk. Dan ketika aku menoleh, dia juga menoleh. Dia tersenyum padaku, senyum yang manis. Aku sedikit salah tingkah kemudian membalas senyum itu untuk menghilangkan sikapku yang sedikit kikuk ketika dia tersenyum padaku. Aku menoleh ke arah banci dan pacarnya namun mereka sudah tak ada, entah pergi kemana.
Makananku datang juga akhirnya, nasi goreng seafood dan lemon tea. Makan siang istimewa, aku makan siang dan mendapat bonus memandangi wajah unyu lelaki di sampingku. Sepertinya dia mahasiswa. Dia terlihat keren menggunakan kaos putih,celana jeans, dan sepatu kets. Sekarang dia tengah sibuk dengan laptopnya, entah sedang buka facebook, twitter atau apalah yang jelas dia terlihat lebih manis dengan tampang seperti itu. Sedang asik melahap makananku tiba-tiba lelaki berwajah imut itu di datangi seorang lelaki dewasa.
Lelaki itu terlihat matang, wajahnya bersih, dan kupikir dia tipe metroseksual. Mereka tengah ngobrol dengan santai, dan kuperhatikan sesekali berpegangan tangan. Aku tersedak ketika melihat si lelaki dewasa itu mengelus pipi si lelaki imut, mereka kemudian menoleh ke arahku. Wajahku memerah karena malu dan segera kualihkan pandanganku ke arah lain. Cukup lama aku melengos, dan dengan keberanian kembali ku tengok te arah mereka. Ternyata mereka beranjak pergi,erh mungkin tak nyaman dengan aku yang sedari tadi mempatikan mereka. Kulihat di lelaki dewasa berlalu, kemudian di ikuti yang berwajah imut. Dan saat mereka berjalan beriringan mereka bergandengan. Hoh, dasar maho!! Kucing sialan!! Umpatku dalam hati. Merasa bodoh juga mengapa dari tadi aku memperhatikan si wajah unyu itu.
Makananku datang juga akhirnya, nasi goreng seafood dan lemon tea. Makan siang istimewa, aku makan siang dan mendapat bonus memandangi wajah unyu lelaki di sampingku. Sepertinya dia mahasiswa. Dia terlihat keren menggunakan kaos putih,celana jeans, dan sepatu kets. Sekarang dia tengah sibuk dengan laptopnya, entah sedang buka facebook, twitter atau apalah yang jelas dia terlihat lebih manis dengan tampang seperti itu. Sedang asik melahap makananku tiba-tiba lelaki berwajah imut itu di datangi seorang lelaki dewasa.
Lelaki itu terlihat matang, wajahnya bersih, dan kupikir dia tipe metroseksual. Mereka tengah ngobrol dengan santai, dan kuperhatikan sesekali berpegangan tangan. Aku tersedak ketika melihat si lelaki dewasa itu mengelus pipi si lelaki imut, mereka kemudian menoleh ke arahku. Wajahku memerah karena malu dan segera kualihkan pandanganku ke arah lain. Cukup lama aku melengos, dan dengan keberanian kembali ku tengok te arah mereka. Ternyata mereka beranjak pergi,erh mungkin tak nyaman dengan aku yang sedari tadi mempatikan mereka. Kulihat di lelaki dewasa berlalu, kemudian di ikuti yang berwajah imut. Dan saat mereka berjalan beriringan mereka bergandengan. Hoh, dasar maho!! Kucing sialan!! Umpatku dalam hati. Merasa bodoh juga mengapa dari tadi aku memperhatikan si wajah unyu itu.
^^^
Pagi ini aku bangun pagi, tapi percuma saja hari ini hari minggu dan kuliah juga libur. Bel rumah berbunyi ketika aku membuka jendela kamarku, duh siapa juga pagi-pagi bertamu. Aku berjalan menuju pintu depan dan membukanya. Kulihat Mbok Minah dengan pakaian khasnya kebaya dan jarit lengkap dengan tas besarnya berdiri di depan pintu rumahku. Wajah wanita itu semakin terlihat tua dari dua tahun lalu.
"Mbak Dara, mulai hari ini saya menjadi pembantu disini. Kemarin ibu telpon dan menyuruh saya kerja lagi disini mbak."
"Oh, ya udah mbok Masuk saja. Kamarnya masih ingat tho??"
Mbok Minah mengangguk dan masuk kedalam, sedikit aneh memang. Kenapa juga mama menyuruh mbok Minah balik kerja lagi. Sebodoh amat. Aku hampir menutup pintu kalau saja seoranag perenpuan seumuranku menghalangiku.
"Mbak Dara, masih ingat saya kan??"
"Siapa ya??"
"Darsih mbak, anaknya mbok Minah"
"O..."
Aku masih tak percaya yang ada di hadapanku adalah Darsih. Darsih anak mbok Minah dua tahun lalu berbeda sekali dengan Darsih yang sekarang. Sekarang Darsih lebih gaul, memakai tanktop dan pakai hotpants tak lupa juga pakai sepatu hak tinggi. Belum lagi dandannya yang menor seperti itu. Kalau tak salah dia setahun lebih muda dari aku, tapi dandanannya berani sekali.
Aku mengibaratkan Darsih yang sekarang seperti Melly, teman kuliahku yang jadi ayam kampus. Awalnya aku tak menyangka dia bispak, tapi begitu aku melihatnta sendiri ketemuan sama om-om di mall aku jadi tahu.
Melly berdandan menor sekali, di memakai rok jeans pendek kemudian atasan memakai kemben seksi berwarna pink, tak lupa dia juga menambahkan aksesoris agar terlihat menarik. Aku yang sedari tadi memperhatikannya, namun dia tak menyadari kalau sedang di intai. Lima menit kemudian ada seorang lelaki paruh baya yang menghampirinya. Lelaki itu tentu saja bukan ayahnya, ayah Melly meninggal karena serangan jantung setahun lalu. Melly sendiri hanya hidup dengan ibunya yang seorang penjahit. Lelaki berkepala plontos itu lantas mencium pipinya kemudian mereka berlalu masuk kesebuah toko baju. Lama juga mereka berbelanja, setengah jam kemudian Melly dan pacar tuanya itu keluar dengan menenteng banyak belanjaan.
Segera ku singkirkan prasangka buruk tentang Darsih dari otakku, kalau tidak tahu lebih baik diam saja. Dan tak perlu juga berprasangka, itu juga bukan urusanku.
Segera ku singkirkan prasangka buruk tentang Darsih dari otakku, kalau tidak tahu lebih baik diam saja. Dan tak perlu juga berprasangka, itu juga bukan urusanku.
^^^
Hari ini aku masuk kuliah siang, aku ingin jadi sarjana. Itu hari ini, entah besok. Di tengah jalan kubatalkan niatku kuliah, aku belok kanan berjalan melewati jembatan penyebrangan. Langkahku terhenti di lampu merah menyaksikan seorang anak laki-laki berseragam merah putih menuju ke sebuah gang sempit di samping warung minuman. Ku perhatikan dari jauh dia menanggalkan seragamnya dan berganti pakaian dengan kaos lusuh. Dia menitipkan seragam beserta tas dan sepatu sekolahnya ke warung minuman di samping gang. Kemudian dia mengambil minuman yang telah di bungkusi dengan ukuran tertentu untuk di jualnya di lampu merah. Aku menghampiri anak ini dan ku sodorkan uang untuk memebeli minuman yang dijuanya.
"Kamu selesai sekolah??"
"Iya kak"
"Orang tua kamu emang nggak kerja sampai kamu mencari uang sendiri??"
"Ayah saya sudah meninggal, saya tinggal sendiri dengan ibu yang seorang pemulung. Saya jualan minuman untuk biaya sekolah kak."
"Kamu hebat ya, ya sudah lanjutkan bekerja"
"Kembaliannya kak"
"Buat kamu saja, buat sekolah."
Dia berterima kasih dan pamit untuk berjualan ke tempat lain. Kuperhatikan langkahnya menyusuri jalanan yang ramai oleh kendaraan yang berlalu lalang. Dia masih terlalu kecil untuk bekerja, harusnya dia menikmati masa kecilnya bermain dan belajar. Namun di usia yang begitu muda dia sudah harus bekerja untuk bisa sekolah. Kata yang selama ini selalu kusepelekan, aku menganggap sekolah itu tak penting setelah kedua orang tuaku tak lagi bersatu dan hanya mementingkan diri mereka sendiri. Aku mendapatkan pelajaran dari seorang anak kecil, yang bahkan hidupnya memprihatinkan. Sedikit banyak pemandangan barusan membuat hatiku menjadi trenyuh, kupercepat langkahku menuju rumah. Rasa bersalah, rasa tak bersyukur membuncah menjadi satu. Tak karuan sekali rasanya.
^^^
Aku masuk kehalaman rumah dengan tergesa, sampai di halaman ku dapati mobil mama ada di sana. Aku acuh dan kemudian masuk kerumah dan kemudian ke kamar. Aku sempat melirik mama yang sedang sibuk di dapur bersama mbok Minah menyiapkan makan.
"Dara"
"Bukannya Dara pernah bilang, ketok pintu dulu sebelum masuk"
"Iya mama minta maaf"
"Mama mau apa datang kesini, bukannya hidup mama sudang senang di luar sana??"
Mamam terdiam cukup lama, dan kemudian menangis. Ah apa lagi ini?? Sandiwara macam apa ini?? Aku melengos menatap keluar jendela.
"Dara, mama minta maaf telah meningglkan kamu sendiri disini. Mulai sekarang mama akan di tinggal disini untuk manjaga Dara"
Aku terdiam, entah apa yang ada di otakku. Rasanya hampa dan kosong, apa aku sudah tak lagi bisa memaafkan?? Apa hatiku sudah mati?? Entahlah. Yang aku tahu apa yang mereka lakukan bukan hal sepele seperti merebut permen dari seorang anak kecil. Aku mengehela nafas panjang.
"Dara mau istirahat, jadi tolong mama keluar."
"Baik, kamu istirahat dulu. Nanti di bicarakan lagi kalau kamu sudah bangun ya"
Mama keluar dan menutup pintu kamarku, ada nada getir dalam suaranya. Aku tahu itu, tapi aku belum mampu menerima semua.
Kurebahkan tubuhku di tempat tidur. Kupejamkan mata, lelah sekali jalan-jalan seharian ini. Aku menghela nafas, kenapa juga aku tak segera tertidur. Padahal aku lelah sekali hai ini. Hatiku lelah, badanku juga.
Sudah satu jam lebih aku hanya guling-guling ke kanan ke kiri, mataku belum juga terpejam. Rasanya sumpek sekali, kembali kupakai sepatu kets dan kuambil tas yang ada di meja samping tempat tidurku. Aku berjalan keluar tanpa memperdulikan mamaku yang tertegun melihatku keluar rumah. Kudengar dia memanggilku, namun tak kuhiraukan dan terus saja berlalu.
^^^
Langkahku terhenti di sebuah rumah sederhana bergaya joglo, halamannya luas bersih dan terlihat asri. Berbeda sekali dengan rumahku yang bergaya minimalis berhalaman sempit dengan kolam ikan di samping tangga. Rumah ini terlihat sepi, aku tenggah mematung di depan pintu. Sepi tak ada orang, kulangkahkan kaki masuk tanpa permisi. Ku tengok satu persatu kamar yang ada di ruang tengah namun tak juga kutemukan apa yang kucari. Aku berjalan menuju kedapur, tercium aroma masakan yang enak sekali.
Aroma yang selama ini sudah lama tak pernah kucium.
Aku mendekati panci yang masih nangkring di atas kompor, ku buka tutupnya dan ah sayur asem. Sayur asem bikinan eyang, nyaris ku ambil saja sebelum kusadar niatku datang kesini.
Kututup kembali panci sayur asem itu, dan aku berjalan kebelakang mencari eyang. Aku berdiri di ambang pintu belakang, kuliahat eyang sedang memberi makan ayam-ayamnya. Eyang sepertinya sadar ada yang sedang memeperhatikannya, beliau menengok ke arahku dan tersenyum kemudian menghampiriku.
"Dara, makannya pelan-pelan"
"Hmm, ini enak sekali eyang. Sudah lama sekali aku tidak menengok eyang disini"
Benar sekali, sudah lama sekali aku tak menegok eyang. Mungkin sebulan lalu aku terakhir kali aku menengoknya. Sayur asem bikinan eyang juga terasa segar sekali. Sesaat bayangan ketika makan bersama dengan mama, papa, juga bersama eyang terlintas di pikiranku. Dulu sangatlah indah, berbeda dengan sekarang. Sekarang mereka lebih mementingkan diri sendiri.
"Ini minumnya"
"Makasih eyang ya"
Aku menyeruput air putih yang disediakan eyang, dirumah eyang tidah ada kulkas. Adanya kendi, tempat air minum mirip teko tapi terbuat dari tanah liat.
Mataku tertegun melihat sosok wanita yang berdiri di depan pintu. Wanita bertubuh sedikit gendut itu terlihat tak asing lagi dimataku, wajah wanita paruh baya. Namun dandanannya seperti abg. Memakai kaos ketat dan celana pencil ketat seksi. Badannya terlihat seperti lepet pas lebaran ketupat dengan perut membentuk gundukan-gundukan lemak. Kontras, badan yang terbilang besar itu berpadu dengan pakaian ketatnya.
Eyang u, dan aku membalas senyum itu. menghampiri perempuan itu, mereka entah sedang bicara apa. Aku hanya
mendengarnya samar-samar. Perempuan ibu menyerahkan bungkusan kepada
eyang, dan eyang menerimanya serta tak lupa mengucapkan terima kasih.
Wanita itu berpamitan dan sempat tersenyum padaku.
"Itu siapa eyang??"
"Oh, itu mba Santi. Ibunya Rio, anak kecil yang sering main kesini sama kamu pas kamu kecil dulu"
"Hah, itu tante Santi?? Kenapa dandanannya gitu eyang, umur berapa dandanan kayak apa."
"Hustt, jangan keras-keras. Nanti orangnya dengar lho"
"Kok bisa gitu sih, dulu dia itu sopan sekali lho.??"
"Yah, kita manusia mana tahu bagaimana nasib kita kedepan Dara. Setelah suaminya meninggal gosipnya di jadi simpanan pak Lurah. Gosip yang beredar juga Santi melakukan itu demi uang, dia terbiasa hidup mewah."
"Ih, kenapa bisa begitu eyang?? Bukannya Rio dan mamanya dapat uang pensiun??"
"Entahlah, seharusnya uang pensiun itu cukup untuk hidup meraka juga mengkuliahkan Rio sampai selesai."
Aku menghela nafas, meneruskan makanku. Tadi aku sempat memperhatikan tante Santi, dia memakai perhiasan banyak sekali. Kalau tak salah memakai dua buah gelang emas di tangan kanannya, kemudian sebuah kalung emas yang berliontin berlian besar yang terlihat mahal. Dan cincin juga, kalau tak salah semua yang dipakainnya asli seperti punya mamahku.
"Hidup itu pilihan, Dara."
"Maksud eyang??"
"Ya hidup itu pilihan. Apa yang kamu pilih menentukan masa depanmu. Kamu lihat sendiri mbak Santi. Dia bisa saja hidup sederhana dan menjadi wanita baik-baik. Tapi demi gengsi dia memilih menjadi simpanan pak Lurah. Matanya sudah di butakan oleh harga, karena itu dia sudah tak lagi memperdulikan gunjingan orang. Kamu masih muda, masih ada banyak waktu untuk belajar dan memilih hidupmu. Jangan sampai salah atau kamu akan menyesal nantinya."
^^^
Aku terdiam memahami kata-kata eyang. Hidup itu pilihan. Aku teringat banci yang kutemui di mall, lelaki berwajah unyu dan pacarnya, teman sekampusku Melly, dan kemudian mama.
Banci di mall itu sudah tentu dia memilih menjadi banci. Tuhan tak pernah menciptakan status tak jelas seperti itu, yang ada hanya pria dan wanita. Harusnya dia memilih menjalani takdirnya menjadi laki-laki, menjadi laki-laki jelas lebih berwibawa dari pada menjadi banci seperti itu.
Ah kemudian lelaki unyu itu, dan juga melly. Kenapa meraka tak belajar saja dengan baik??
Kenapa mereka melacur demi uang?? Dia tak seberuntung kamu Dara. Otakku makin kacau dengan pertanyaan-pertanyaan itu.
Aku terdiam sesaat, terlintas sosok mama. Mama mungkin saja menyadari kesalahannya dan memilih pilihan hidupnya untuk bersamaku. Anak semata wayangnya.
Aish, aku makin binggung. Bus yang kutumpangi berhenti di lampu merah. Seorang anak laki-laki menaiki bus dan mulai menawarkan minuman. Melihat anak laki-laki itu aku jadi teringat anak laki-laki yang kutemui tadi siang. Dia tak mengeluh dengan hidupnya, padahal dia hanya anak pemulung. Dan untuk bersekolah saja dia harus mengasong minuman dari bus satu ke bus lainnya.
Mataku perlahan basah, aku mulai mengerti. Hatiku mulai terbuka, dan aku mencoba menyimpulkan tentang kata-kata eyang tadi. Hidup itu pilihan. Tapi hidup juga anugrah yang harus disyukuri.
Aku memantapkan hati, aku ingin pulang. Ingin bertemu mama dan memeluknya. Mama sudah memilih pilihan yang tepat, dan aku kan membuatnya bersyukur karena memilih pilihan itu.
Dan aku juga akan memilih pilihanku, memaafkan mama dan akan melanjutkan hidupku dengan baik agar kelak akan kusyukuri.
Bus berhenti di Sebuah perumahan elit, aku turun dari bus dan mempercepat langkahku menuju rumah. Rasanya hangat sekali, tak pernah sehangat ini.
