Selasa, 20 Desember 2011

maafkan aku

Kau masih terdiam disana, di sudut sepi tanpa penerang
menunduk bermandikan kegalauan
entah apa yang kau pikirkan, kau seperti tak waras lagi
kau membisu memikirkan sesuatu, tapi entah apa
mungkin penyebab kau jadi gila
dulu kau selalu tersenyum, meski kau jarang bicara karena ku tahu kau memang pendiam
kau pernah ceria kala itu, duduk di pinggir danau bertemankan kanvasmu
matamu memandang luas ke alam dan sekali lagi kau menuangkannnya dengan kuas di atas imajimu
setelah tiruan alam itu jadi kau tersenyum dan memperlihatkannya padaku
tatapan matamu akan memancarkan kebahagiaan bila aku memuji lukisanmu bagus
namun itu dulu, sekarang sepertinya kau lebih mencintai pojok kamarmu yang lusuh
ruang persegi empat yang dua tahun telah kau tinggali, yang cat di temboknya mulai mengelupas perlahan
aku memperhatikanmu, kau menatapku dan kau menangis
hatiku sakit, teriris rasanya
maaf.., maaf.., maaf aku yang tak pernah ada di dekatmu
aku yang selalu terbuai dengan hingar bingar dunia
aku yang hanya pentingkan egoku tanpa tahu aku menyakitimu
selama itu...
maafkan aku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar